Orang bilang aku gila. Tak tau kenapa hampir setiap teman yang baru berjumpa akan berkata sama. Aku tak gila, aku hanya tak suka mereka. Apa lebih menyukai tempat sempit disebut gila? Apa kurang bisa berkata-kata disebut gila? Apa suka sendirian juga bisa disebut gila? Bila mereka bisa menghakimi semua itu dengan gila, mungkin setengah populasi dunia berisi orang kurang waras.
Lelah dan penat telah menjalar ke
seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan
kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata
kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya
untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk
mengikuti segala otorasi otakku.
Jam dinding besar di
tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu
di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang
ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing –
masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak
berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi,
yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam
berwarna biru muda.
Terlihat
beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang
menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang
terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta
yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya
akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan
bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.
Dia ada di tempat yang jauh, yang tak
mungkin bisa dijangkau oleh siapapun. Dia hidup di sana dan kekal. Dia berada
di masa lalu. Tapi kepingnya menempel erat di sudut mataku, di nadiku, dan
bersemayam di sisi jantungku. Dialah ambang batas antara semua realita dan
bayangan – bayangan dalam hidupku selama ini.
Sejak kejadian pelukan itu, dia jadi orang yang lebih
terbuka sama gue. Jadi sering kontak meski cuman sms nanyain udah makan, atau
nanyain udah ngerjain tugas apa belum. Yang jelas, jadi lebih perhatian, lah. Dan
mulai saat itu juga, gue resmi jadi… tukang ojeknya, yang nganterin pulang ke
rumahnya setelah kuliah. Berangkatnya tetep dianterin sama sopir, karena gue
mau jemput juga jauh, tapi saat pulangnya gue udah berjanji mau mengabdikan
diri jadi tukang ojeknya. Jarang pula gue lihat tatapan mata yang malam itu,
yang kini sering gue lihat adalah tatapan mata teduh, yang bisa gue sebut
“penuh cinta”
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact