Aku mencintaimu dalam kegundahan yang tak pernah kubagi. Dalam keheningan yang kututup rapat di pojok kamar. Dalam ketakutan berbentuk puisi setengah bait yang tak mampu kutulis ini.
Semua sayatan isyarat yang tak pernah mengetuk pintumu. kau bawa hati ini menemui ajalnya, manis. Hanya bait-bait sisa ini yang masih menemaniku menunggui pagi. aku lebih meyakini matahari daripada semua anganku sendiri.
Pernah terfikir, akulah tisu bekasmu. Yang kau cari hanya untuk membuang ingusmu, atau mengelap sisa air mata di atas lesung pipitmu. Ya, lesung pipit yang tak pernah membeku, mencairkan semua gundah saat menatapmu.
Datanglah kemari, manis. Telah kusiapkan tempat kecil untuk kau lukai. Saat kau ingin bercumbu dengan amarahmu, persis pelacur murahan di lorong-lorong gelap terowongan berujung sempit.
Apakah anganku terlalu tinggi, manis? Apakah semua tetaplah semoga yang tak ber-rupa? Atau hanya setumpuk barangkali yang tak pernah teramini?
Aku lelah mengejar sisa luapan cintamu yang tak beralamat kepadaku. Mengejar kepingan sebuah hati yang selalu kau kebiri. Kutinggalkan hadiah untukmu, manis. sebuah kotak kecil berbentuk hati. Jangan kau buka, isinya sama.
Setiap orang pasti memiliki tempat untuk menghabiskan kesedihannya. Sebuah tempat yang sengaja dipilih untuk mencurahkan luka. Meledakkan tangis yang sudah dipendam dalam dada. Entah kenapa selalu kupilih tempat ini. Cafe mungil berhiaskan foto orang-orang kuno berpigura bundar. Beberapa barang yang terkesan vintage juga tersebar di dalam cafe. Tak ramai, pun tak sepi. Selalu ada kursi kosong dekat jendela yang bisa kugunakan untuk membuang muka.
Orang bilang aku gila. Tak tau kenapa hampir setiap teman yang baru berjumpa akan berkata sama. Aku tak gila, aku hanya tak suka mereka. Apa lebih menyukai tempat sempit disebut gila? Apa kurang bisa berkata-kata disebut gila? Apa suka sendirian juga bisa disebut gila? Bila mereka bisa menghakimi semua itu dengan gila, mungkin setengah populasi dunia berisi orang kurang waras.
Lelah dan penat telah menjalar ke
seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan
kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata
kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya
untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk
mengikuti segala otorasi otakku.
Jam dinding besar di
tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu
di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang
ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing –
masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak
berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi,
yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam
berwarna biru muda.
Terlihat
beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang
menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang
terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta
yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya
akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan
bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.
Dia ada di tempat yang jauh, yang tak
mungkin bisa dijangkau oleh siapapun. Dia hidup di sana dan kekal. Dia berada
di masa lalu. Tapi kepingnya menempel erat di sudut mataku, di nadiku, dan
bersemayam di sisi jantungku. Dialah ambang batas antara semua realita dan
bayangan – bayangan dalam hidupku selama ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact