Jam dinding besar di
tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu
di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang
ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing –
masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak
berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi,
yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam
berwarna biru muda.
Terlihat
beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang
menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang
terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta
yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya
akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan
bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.
Dia
mendongak, secercah semangat terlihat di kelopak matanya dan segera mengambil
sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan kardus kecil berbingkai lucu
bergambar beruang dengan sebuah nama di tengahnya, “Ryan” Sambil mengangkat
kardus itu setinggi ujung tangannya, matanya tajam mengamati satu demi satu
manusia yang keluar dari gerbong besi tersebut. Dia melakukannya sampai tak ada
orang yang turun dan semua calon penumpang yang tadi menunggu di peron yang
sama dengannya masuk ke dalam. Kereta itu berlalu dan dia tertunduk lagi. Sign
sederhana dari bahan kardus pun dikembalikan lagi ke dalam tasnya, mengambil
hanndphone dari saku jaket kanannya dan segera menuliskan sebuah pesan singkat
“Aku
tak menemukanmu di stasiun kereta.” Kirim. Kepada nomor yang selalu dia ingat,
tak hanya di kepala, tapi juga di hatinya.
Dia
berjalan pelan menuju tempat terakhir yang ingin dia tuju hari itu, tempat di
mana dulu dia berpisah dengan sosok di balik nomor handphone yang selalu dia
nanti kedatangannya. Berharap dia tak harus menuliskan pesan singkat lagi,
berharap dia bertemu, memeluk, dan menggandeng sosoknya pergi menjauhi tempat
itu, terminal bis.
Dia
menunggu agak lama di sana, sendirian. Sampai suara adzan membangunkan dia dari
penantian yang tak kunjung ada. Segera dia meletakkan tas punggung coklatnya di
pojok belakang mushola, mengambil wudhu, memakai mukenah dan ikut sholat
berjamaah.
Bis
terakhir yang mengunjungi ke kota itu akan datang jam 7 malam. Sembari
menunggunya, dia membuka kembali tas coklatnya. Ada sebuah kotak kecil dan beberapa
bungkus plastik di dalamnya, dia membuka dan mencampurkan semuanya. Dia berbuka
puasa.
Arloji
coklat miliknya menunjukkan pukul 19.30, dan dari kejauhan, ada dua lampu sorot
yang menerangi jalan di terminal yang sepi itu. Bisnya datang. Dia mendekat,
berjalan ke arah trotoar di samping pintu keluar bis “Antar Kota Antar Provinsi”
itu dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di stasiun. Tangannya
menjulang tinggi, menggapai jendela bus itu. Satu per satu penumpang turun dari
pintu keluar, dan tak dia temukan lagi sosok itu.
Dia
berjalan pelan, menjauh dari bis itu dan tangannya menggapai handphone di
sakunya. Dia menulis lagi satu pesan singkat.
“Aku
tak menemukannmu di terminal. Aku harus kemana lagi?” kirim.
Dia
berjalan pulang, menuju rumah mungil tempatnya mengasingkan diri dari
peradaban, dan mengetuk pintu kayu rumahnya yang sudah agak ringkih termakan
usia.
“Assalamu’alaikum.
Aku pulang buk” dia berkata pelan
“Wa’alaikumsalam”
terdengar kata dari dalam, dan sosok seorang ibu yang masih berbalut mukenah
berdiri di sana. Dengan raut muka yang lemas dia berkata “mau sampai kapan kamu
kayak gitu, nduk? Yang kamu tunggu nggak akan pulang.”
Dia
tak menjawabnya, segera berlalu menuju kamar yang ada di sebelah kiri ruang
tamu. Sambil membuka pintu kamar, dengan perlahan dia berkata “Kalau perlu
sampai dia pulang, buk. Atau setidaknya, sampai lebaran”
***
Hanya
ada beberapa lembar pattimura di dompetku. Hidup jauh dari rumah mengharuskan
aku menjadi pria yang tegar, tahan godaan, dan pandai mengelola keuangan. Aku
duduk sendirian di hadapan kalender bertuliskan “Jadwal Imsakiyah 1433 H/2013
M” kupandangi lagi dia “satu hari lagi, pasti masih cukup” batinku. Di
hadapanku terdapat kotak mungil yang seluruh bagian tubuhnya sudah tertutup
stiker bertuliskan “For Fins and Home Trip” kubuka pelan, berharap jumlahnya
tiba- tiba saja bertambah tanpa kusadari. Ah… sama saja, hanya beberapa puluh
ribuan yang tergeletak di sana tak berdaya.
Pintu
kamarku terbuka perlahan dari luar, Sandi yang hanya mengenakan celana kolor
dan handuk di kepalanya masuk dan segera menuju lemarinya. Dia mengenakan
setelan, segera berangkat bekerja. Tanpa melihatku, dia berkata
“Jangan
ngelamun lihat kalender terus, bro. hari berganti dengan cepat”
“aku
bingung” aku berkata sambil terus melihat celenganku.”Aku rindu rumah”
kuberkata lagi
“Pulanglah.
Jangan jadi anak durhaka kau dengan tak pernah mengunjungi orang tuamu,” dia
berkata tanpa beban, tak merisaukan keadaan temannya “Jangan kau jadikan tempat
ini pelarian, bro”
Sebuah
nada meluncur di layar handphoneku, nada yang kukenal, bisa kutebak pasti
adalah pesan singkat yang sama. Aku melihatnya, dan mengambilnya, membalikkan
badan dan menunjukkannya pada Sandi yang masih asik menyisir rambut di depan
cermin.
“Ini
yang membuatku tak bisa pulang. Bukan, aku masih belum ingin pulang”
“Bukan
seperti itu cara menghukum diri sendiri, bro. mintalah maaf kepada dirimu,
kepadanya, dan lanjutkan hidupmu. Sandi menegarkan dirinya, membalik badan dan
meneruskan ucapannya “Maju, bro. jangan terus lihat ke belakang. Kalau pikiran
kowe cuman di situ – situ aja, yang kowe dapet juga bakalan itu – itu aja” dia
berkata seraya mengambil sepatu hitam miliknya, memakainya, dan segera pergi.
Aku
kembali menghadap meja. Dalam 5 hari terakhir, handphoneku selalu mendapatkan
pesan singkat yang sama. Aku tak pernah mampu untuk membalasnya. Hanya sekali,
dan tak kulakukan lagi. “Hentikan semua tindakanmu, aku tak akan pulang” dan
dia tak pernah menjawabnya.
Sehari
menjelang lebaran dan aku masih tak memiliki apapun. Bahkan tabungan untuk bisa
pulang. Menurutku, cukup bisa bertahan hidup di sini saja merupakan anugerah.
Aku kembalikan lagi celengan kayu itu ke dalam lemari. Menempatkannya di
samping celengan yang sama, bertuliskan “Tabungan Kuliah” ku ambil celengan itu
dan membukanya. Dia terlihat lebih gemuk dibandingkan tetangga sebelahnya.
Masih terdapat beberapa ratus ribuan, dan aku tak berniat untuk memakainya
sekalipun. Aku memang memprioritaskan lebih dari 50 % gajiku untuk ini. Ini
impianku, masa depanku, aku ingin sekolah lagi.
Tak
seperti tahun sebelumnya, tahun ini tak banyak tabuh bedug, suara orang
tadaruz, atau orang – orang yang berjualan ta’jil sebelum buka puasa. Bahkan
untuk menikmati adzan maghrib saja aku harus memelototi layar handphoneku.
Hidup di tanah orang yang heterogen dan menjadi minoritas adalah hal yang
sulit.
Aku
mengambil kembali handphoneku. Kulihat kembali beberapa pesan singkat yang
akhir – akhir ini kuterima. Selalu dari nama yang sama, yang tak pernah bisa
kuhapus sampai saat ini, Luna. Mengingatnya membuat luka, luka yang tak mudah
hilang, seperti sebuah tumor yang hidup bersebelahan dengan jantungku, dan saat
akan kuambil, tiba – tiba saja dia melekat, dan mengeras, sakit. Sekarang luka itu
meradang lagi dan membengkak.
Mengingatnya
menghabiskan waktuku, yang tak ingin kubuang sia – sia. Kenapa dia begitu gigih
menginginkanku untuk pulang? Padahal sudah tak ada tempat lagi untukku, untuk
kita seandainya aku harus kembali nanti. Entahlah… dia memang bukan gadis yang
mudah ditebak.
Adzan
maghrib menggema di handphoneku. Waktu yang paling ditunggu olehku dan umat
muslim di seluruh dunia. Waktunya berbuka puasa. Nasi yang sudah kumasak dari
sore tinggal menunggu temannya saja, lauk pauk. Di tempat ini hanya ada 3
diantara 20 orang yang berpuasa. Benar – benar minoritas. Aku berbuka puasa
sendirian, tak seperti di rumah yang selalu berbuka puasa dengan seluruh
keluarga yang ada, di sini aku hanya ditemani penghuni kamarku, yang tak semuanya
manusia.
Alhamdulillah…
setidaknya masih ada makanan untuk dimakan, setidaknya masih ada teman yang
berpuasa, setidaknya masih diberikan kekuatan untuk menahan hawa nafsuku,
setidaknya masih kuat berdiri untuk menunaikan shalatku, setidaknya masih ada
udara untuk kuhirup di setiap nafasku. Kalau kita jeli, banyak hal yang
seharusnya bisa kita syukuri. Masih banyak hal yang harusnya kita lantunkan di
setiap do’a menyembah Sang Pencipta.
Nada
yang sama terdengar lagi di handphoneku. Sebuah pesan singkat lagi. Pesan yang
sama seperti kemarin, tapi kali ini ada yang lain. Dia menambahkan satu kalimat
lagi. “Aku harus kemana lagi?” aku berpikir sejenak. Aku harus mengakhiri ini,
setidaknya untuk kebaikanku dan dia.
“Kamu
jangan mencari, atau menunggu lagi. Aku nggak mungkin kembali.” Maafkan aku,
Luna. “Aku tak mungkin pulang kalau keadaanku masih sama, kalau keadaan kita
masih seperti yang dulu. Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri”
Ada
pesan masuk. Kali ini dia membalasnya, “Aku butuh kamu”
“Nggak.
Kamu nggak butuh aku. Selama ini aku hanya menjadi tempatmu berteduh saat hujan
saja. Waktu matahari kembali bersinar lagi, kamu akan pergi. Dan yang tersisa
adalah aku menunggumu kembali.” Aku
menghela nafas. Tak pernah terpikirkan olehku mengirimkan pesan singkat seperti
ini sebelumnya.
Dia
membalasnya lagi “Aku nggak pernah menganggap kamu gitu”
“Mungkin,
tapi keadaan yang menjadikan kita seperti ini. Aku tak mau terus begini. Semua
ini harus diubah, dan jauh darimu adalah pilihan terbaik yang bisa kulakukan
untuk mengubah semuanya. Jangan tunggu aku pulang”
Dia
tak menjawabnya lagi
Siding
isbat menentukan tanggal 1 syawal di TV menunjukkan puncaknya. Menteri agama
memutuskan bahwa besok sudah lebaran. Alhamdulillah, genap juga puasaku satu
bulan. Kalau di rumah, lebaran selalu identik dengan saling salam, sapa antar
keluarga, dan opor ayam, di sini tak ada semuanya. Bahkan aku harus naik motor
lebih dari 5 kilometer untuk menunaikan sholat idul fitri. Dan aku harus
bersujud di samping orang – orang yang tak kuketahui asalnya, dan tak pula
kukenal. Semuanya terasa asing. Aku rindu rumah, ingin pulang, tapi ku tak
bisa.
Maafkan
putramu ini ayah, ibu. Maafkan dia karena tak bisa bersimpuh di hadapan
lututmu. Maafkan dia karena tak bisa mencium punggung tanganmu yang engkau
gunakan untuk merawatnya sedari kecil. Maafkan dia karena tak bisa meminta maaf
dan menangisi dosanya kepada kalian. Dia tak bermaksud meninggalkan kalian. Dia
hanya ingin mengejar asa yang dari dulu ingin digenggamnya. Jangan sebut dia
durhaka, ayah, ibu.
Tuhan,
aku bersimpuh kepadaMu, dengan mata basah, air mata pemberian dariMu tanda
kasih sayangMu kepada kami. Aku meminta kepadaMu, Tuhan. Di tanah heterogen
ini, di mana kami menjadi minoritas di sini, kumohon kuatkan tekadku, teguhkan
imanku, bulatkan niatku, agar aku bisa hidup dan terus berada di jalanMu.
Lepaskan aku dari rantai yang melilit kakiku, dan dari semua hal yang
mengingatkan aku dengan masa lalu. Aku siap Tuhan, aku siap untuk berdamai
dengan masa laluku, aku siap untuk memaafkan diriku sendiri. Hanya kepadaMu aku
meminta, dan hanya kepadaMu jua aku memohon pertolongan. Amiin
Aku
berjalan ke depan cermin besar di kamarku, melihat bayangan yang merefleksikan
diriku seutuhnya. Aku memandanginya dan tersenyum. “Terima kasih, ikhwan. Aku
memaafkanmu. Maukah engkau memaafkanku juga?” aku meminta maaf kepada diriku
sendiri, sebelum meminta maaf kepada orang tuaku.
Kuambil
handphone dari saku kiri kemejaku, dan segera menelepon ayah dan ibu.
“Assalamu’alaikum”
aku mencoba menegarkan diriku dan tak berusaha menunjukkan air mataku.
“Wa’alaikumsalam”
suara ibu terdengar dari speaker kecil handphoneku. Seketika itu pula aku
runtuh dari pertahananku.
“Maafkan
segala dosa Ryan buk. Maaf karena Ryan nggak bisa pulang. Maaf karena tak bisa
sungkem memeluk lutut ibuk. Maafkan Ryan yang hanya bisa mendengar suara ibuk
dari jauh, buk”
Pertahanan
ibuku juga runtuh. Terdengar isak di sela beliau mendengarkanku
“Ndak
papa, le. Kamu yang baik di sana ya. Kamu jadi orang yang berguna, le.
Setidaknya untuk dirimu sendiri. Ibuk selalu mendo’akanmu. Jangan tersesat di
tengah perantauanmu ya, le”
“Nggeh
buk. Aku akan berusaha buk. Aku akan terus berbakti sama ibuk dan ayah. Aku
janji buk”
“Kamu
ngomong sama ayah dulu, nggeh.” Terdengar suara ibuku menjauhi handphone.
Beliau sudah tak sanggup lagi berkata – kata
“Assalamu’alaikum,
nak” ayahku berbicara. Selalu dengan nada teduh yang menenangkan kegelisahan
hati anaknya.
“Wa’alaikumsalam,
ayah.” Aku berkata di sela tangisku. “Yah, Ryan minta maaf kalau selama ini
belum menjadi contoh yang baik buat adik – adik. Ryan minta maaf kalau selama
ini hanya bisa bikin keluarga malu. Ryan belum bisa bikin ayah bangga.” Aku tak
kuasa melanjutkan kata – kataku. Semuanya telah tertelan oleh tangis haru
karena mendengar sosok yang selama ini kukagumi, pelindung keluargaku.
“Nggak
papa, le. Raih cita – citamu. Kami akan menunggumu pulang. Kamu selalu punya
tempat di sini. Kapanpun kamu mau pulang.” Ayah berkata dengan nada haru yang
teramat sangat. Beliau terisak. Itu pertama kalinya beliau menangis untukku.
“Kamu jaga diri di sana, le. Bali nggak seperti Jawa. Kamu harus tau
batasanmu.”
“Nggeh,
ayah”
Jaga
sholatmu, ibadahmu, tubuhmu juga. Ayah cuman bisa mendo’akanmu dari sini, le”
“Akan
Ryan ingat semua nasihat ayah”
“Ya
sudah le kalau begitu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam,
yah.” Aku terduduk bersandar dinding, tertunduk dan terus menangis. Kesedihanku
melahap semuanya, tak tersisa.
Setelah
beberapa menit tertunduk, aku sadar. Masih ada satu hal terakhir untuk
dilakukan. Aku harus meminta maaf kepada Luna. Aku mencoba meneleponnya, satu,
dua, tiga kali. Baru ada jawaban.
“Halo…”
suara dari seberang sana. Aku masih ingat suara ini, masih sama seperti dahulu.
“Assalamu’alaikum”
kataku, dan satu menit berlalu tanpa ada jawaban.
“Wa’alaikumsalam.”
Suaranya tertahan.
“Luna,
aku telah memaafkanmu. Apakah kamu juga ingin memaafkanku?”
“Aku
memaafkanmu, Ryan. Aku sudah melakukannya sejak kamu meninggalkanku.” Deg…
mendengarnya mengatakan itu membuatku menyadari bahwa aku telah berdosa
meninggalkannya. “Maafkan aku juga, karena aku belum bisa menggantikan posisimu
di hatiku. Aku akan mencobanya. Aku pasti bisa melakukannya. Aku yakin…” isak
tangis terdengar di handphoneku. Dia mencoba menegarkan dirinya mengungkapkan
itu semua. Tapi tangis yang tertahan selalu ingin diungkapkan.
“Jangan
kamu membebani dirimu dengan masa lalu, Luna. Aku pergi untuk kebaikan kita
bersama. Karena memang tak ada lagi tempat untuk kita di sana”
“Kenapa
kamu pergi secepat itu. Kamu tak pernah memikirkan perasaanku.”
“Aku
pergi mengejar cita – citaku. Supaya ada yang bisa kubanggakan saat aku kembali
nanti”
“Kau
egois.” Isak itu berubah menjadi tangis dan semakin kencang
“Aku
telah mencoba untuk tidak egois, Luna! Mengertilah posisiku. Kenapa kau hanya
melihat sesuatu dari maatamu saja?”
“Apa
yang harus kulakukan sekarang?” Luna berkata dengan nada yang sangat berat. Aku
tak tau harus bagaimana menjawabnya.
“Jawab, Ryan!” dia
berkata dengan penuh amarah.
“Kau harus melupakanku.
Jangan tunggu aku lagi, Luna. Setidaknya kamu harus berbahagia, meski tanpa
aku. Bukankah itu yang selalu kamu lakukan? Kalau kita memang berjodoh, aku
pasti akan kembali untukmu.
“Cukup! Tidak! Jangan
bicara soal jodoh. Aku selalu berharap kepada Tuhan kalau kamu bukan jodohku.
Kau tak bisa datang lagi, dan sekali lagi menghancurkan hidupku. Aku tak mau!”
“Sekarang kamu bebas
pergi. Aku tak akan menjadi pemberatmu lagi. Aku hanya orang dari masa lalumu.
Aku tak akan menunggumu pulang lagi”
Tut… Tut… Tut…
Panggilanku diakhiri
olehnya. Meski tak berakhir seindah yang kubayangkan, setidaknya ini semua
telah berakhir. Memang itu yang terbaik untuk kita saat ini. Maafkan aku Luna

0 komentar:
Posting Komentar