Sabtu, 26 Juli 2014

Sebuah Cerpen - Jangan Tunggu Aku Pulang




Jam dinding besar di tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing – masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi, yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam berwarna biru muda.

            Terlihat beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.

            Dia mendongak, secercah semangat terlihat di kelopak matanya dan segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan kardus kecil berbingkai lucu bergambar beruang dengan sebuah nama di tengahnya, “Ryan” Sambil mengangkat kardus itu setinggi ujung tangannya, matanya tajam mengamati satu demi satu manusia yang keluar dari gerbong besi tersebut. Dia melakukannya sampai tak ada orang yang turun dan semua calon penumpang yang tadi menunggu di peron yang sama dengannya masuk ke dalam. Kereta itu berlalu dan dia tertunduk lagi. Sign sederhana dari bahan kardus pun dikembalikan lagi ke dalam tasnya, mengambil hanndphone dari saku jaket kanannya dan segera menuliskan sebuah pesan singkat

            “Aku tak menemukanmu di stasiun kereta.” Kirim. Kepada nomor yang selalu dia ingat, tak hanya di kepala, tapi juga di hatinya.

            Dia berjalan pelan menuju tempat terakhir yang ingin dia tuju hari itu, tempat di mana dulu dia berpisah dengan sosok di balik nomor handphone yang selalu dia nanti kedatangannya. Berharap dia tak harus menuliskan pesan singkat lagi, berharap dia bertemu, memeluk, dan menggandeng sosoknya pergi menjauhi tempat itu, terminal bis.

            Dia menunggu agak lama di sana, sendirian. Sampai suara adzan membangunkan dia dari penantian yang tak kunjung ada. Segera dia meletakkan tas punggung coklatnya di pojok belakang mushola, mengambil wudhu, memakai mukenah dan ikut sholat berjamaah.

            Bis terakhir yang mengunjungi ke kota itu akan datang jam 7 malam. Sembari menunggunya, dia membuka kembali tas coklatnya. Ada sebuah kotak kecil dan beberapa bungkus plastik di dalamnya, dia membuka dan mencampurkan semuanya. Dia berbuka puasa.

            Arloji coklat miliknya menunjukkan pukul 19.30, dan dari kejauhan, ada dua lampu sorot yang menerangi jalan di terminal yang sepi itu. Bisnya datang. Dia mendekat, berjalan ke arah trotoar di samping pintu keluar bis “Antar Kota Antar Provinsi” itu dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di stasiun. Tangannya menjulang tinggi, menggapai jendela bus itu. Satu per satu penumpang turun dari pintu keluar, dan tak dia temukan lagi sosok itu.

            Dia berjalan pelan, menjauh dari bis itu dan tangannya menggapai handphone di sakunya. Dia menulis lagi satu pesan singkat.

            “Aku tak menemukannmu di terminal. Aku harus kemana lagi?” kirim.

            Dia berjalan pulang, menuju rumah mungil tempatnya mengasingkan diri dari peradaban, dan mengetuk pintu kayu rumahnya yang sudah agak ringkih termakan usia.

            “Assalamu’alaikum. Aku pulang buk” dia berkata pelan

            “Wa’alaikumsalam” terdengar kata dari dalam, dan sosok seorang ibu yang masih berbalut mukenah berdiri di sana. Dengan raut muka yang lemas dia berkata “mau sampai kapan kamu kayak gitu, nduk? Yang kamu tunggu nggak akan pulang.”

            Dia tak menjawabnya, segera berlalu menuju kamar yang ada di sebelah kiri ruang tamu. Sambil membuka pintu kamar, dengan perlahan dia berkata “Kalau perlu sampai dia pulang, buk. Atau setidaknya, sampai lebaran”

***

            Hanya ada beberapa lembar pattimura di dompetku. Hidup jauh dari rumah mengharuskan aku menjadi pria yang tegar, tahan godaan, dan pandai mengelola keuangan. Aku duduk sendirian di hadapan kalender bertuliskan “Jadwal Imsakiyah 1433 H/2013 M” kupandangi lagi dia “satu hari lagi, pasti masih cukup” batinku. Di hadapanku terdapat kotak mungil yang seluruh bagian tubuhnya sudah tertutup stiker bertuliskan “For Fins and Home Trip” kubuka pelan, berharap jumlahnya tiba- tiba saja bertambah tanpa kusadari. Ah… sama saja, hanya beberapa puluh ribuan yang tergeletak di sana tak berdaya.

            Pintu kamarku terbuka perlahan dari luar, Sandi yang hanya mengenakan celana kolor dan handuk di kepalanya masuk dan segera menuju lemarinya. Dia mengenakan setelan, segera berangkat bekerja. Tanpa melihatku, dia berkata

            “Jangan ngelamun lihat kalender terus, bro. hari berganti dengan cepat”

            “aku bingung” aku berkata sambil terus melihat celenganku.”Aku rindu rumah” kuberkata lagi

            “Pulanglah. Jangan jadi anak durhaka kau dengan tak pernah mengunjungi orang tuamu,” dia berkata tanpa beban, tak merisaukan keadaan temannya “Jangan kau jadikan tempat ini pelarian, bro”

            Sebuah nada meluncur di layar handphoneku, nada yang kukenal, bisa kutebak pasti adalah pesan singkat yang sama. Aku melihatnya, dan mengambilnya, membalikkan badan dan menunjukkannya pada Sandi yang masih asik menyisir rambut di depan cermin.

            “Ini yang membuatku tak bisa pulang. Bukan, aku masih belum ingin pulang”

            “Bukan seperti itu cara menghukum diri sendiri, bro. mintalah maaf kepada dirimu, kepadanya, dan lanjutkan hidupmu. Sandi menegarkan dirinya, membalik badan dan meneruskan ucapannya “Maju, bro. jangan terus lihat ke belakang. Kalau pikiran kowe cuman di situ – situ aja, yang kowe dapet juga bakalan itu – itu aja” dia berkata seraya mengambil sepatu hitam miliknya, memakainya, dan segera pergi.

            Aku kembali menghadap meja. Dalam 5 hari terakhir, handphoneku selalu mendapatkan pesan singkat yang sama. Aku tak pernah mampu untuk membalasnya. Hanya sekali, dan tak kulakukan lagi. “Hentikan semua tindakanmu, aku tak akan pulang” dan dia tak pernah menjawabnya.

            Sehari menjelang lebaran dan aku masih tak memiliki apapun. Bahkan tabungan untuk bisa pulang. Menurutku, cukup bisa bertahan hidup di sini saja merupakan anugerah. Aku kembalikan lagi celengan kayu itu ke dalam lemari. Menempatkannya di samping celengan yang sama, bertuliskan “Tabungan Kuliah” ku ambil celengan itu dan membukanya. Dia terlihat lebih gemuk dibandingkan tetangga sebelahnya. Masih terdapat beberapa ratus ribuan, dan aku tak berniat untuk memakainya sekalipun. Aku memang memprioritaskan lebih dari 50 % gajiku untuk ini. Ini impianku, masa depanku, aku ingin sekolah lagi.

            Tak seperti tahun sebelumnya, tahun ini tak banyak tabuh bedug, suara orang tadaruz, atau orang – orang yang berjualan ta’jil sebelum buka puasa. Bahkan untuk menikmati adzan maghrib saja aku harus memelototi layar handphoneku. Hidup di tanah orang yang heterogen dan menjadi minoritas adalah hal yang sulit.

            Aku mengambil kembali handphoneku. Kulihat kembali beberapa pesan singkat yang akhir – akhir ini kuterima. Selalu dari nama yang sama, yang tak pernah bisa kuhapus sampai saat ini, Luna. Mengingatnya membuat luka, luka yang tak mudah hilang, seperti sebuah tumor yang hidup bersebelahan dengan jantungku, dan saat akan kuambil, tiba – tiba saja dia melekat, dan mengeras, sakit. Sekarang luka itu meradang lagi dan membengkak.

            Mengingatnya menghabiskan waktuku, yang tak ingin kubuang sia – sia. Kenapa dia begitu gigih menginginkanku untuk pulang? Padahal sudah tak ada tempat lagi untukku, untuk kita seandainya aku harus kembali nanti. Entahlah… dia memang bukan gadis yang mudah ditebak.

            Adzan maghrib menggema di handphoneku. Waktu yang paling ditunggu olehku dan umat muslim di seluruh dunia. Waktunya berbuka puasa. Nasi yang sudah kumasak dari sore tinggal menunggu temannya saja, lauk pauk. Di tempat ini hanya ada 3 diantara 20 orang yang berpuasa. Benar – benar minoritas. Aku berbuka puasa sendirian, tak seperti di rumah yang selalu berbuka puasa dengan seluruh keluarga yang ada, di sini aku hanya ditemani penghuni kamarku, yang tak semuanya manusia.

            Alhamdulillah… setidaknya masih ada makanan untuk dimakan, setidaknya masih ada teman yang berpuasa, setidaknya masih diberikan kekuatan untuk menahan hawa nafsuku, setidaknya masih kuat berdiri untuk menunaikan shalatku, setidaknya masih ada udara untuk kuhirup di setiap nafasku. Kalau kita jeli, banyak hal yang seharusnya bisa kita syukuri. Masih banyak hal yang harusnya kita lantunkan di setiap do’a menyembah Sang Pencipta.

            Nada yang sama terdengar lagi di handphoneku. Sebuah pesan singkat lagi. Pesan yang sama seperti kemarin, tapi kali ini ada yang lain. Dia menambahkan satu kalimat lagi. “Aku harus kemana lagi?” aku berpikir sejenak. Aku harus mengakhiri ini, setidaknya untuk kebaikanku dan dia.

            “Kamu jangan mencari, atau menunggu lagi. Aku nggak mungkin kembali.” Maafkan aku, Luna. “Aku tak mungkin pulang kalau keadaanku masih sama, kalau keadaan kita masih seperti yang dulu. Aku belum bisa memaafkan diriku sendiri”

            Ada pesan masuk. Kali ini dia membalasnya, “Aku butuh kamu”

            “Nggak. Kamu nggak butuh aku. Selama ini aku hanya menjadi tempatmu berteduh saat hujan saja. Waktu matahari kembali bersinar lagi, kamu akan pergi. Dan yang tersisa adalah aku menunggumu kembali.”  Aku menghela nafas. Tak pernah terpikirkan olehku mengirimkan pesan singkat seperti ini sebelumnya.

            Dia membalasnya lagi “Aku nggak pernah menganggap kamu gitu”

            “Mungkin, tapi keadaan yang menjadikan kita seperti ini. Aku tak mau terus begini. Semua ini harus diubah, dan jauh darimu adalah pilihan terbaik yang bisa kulakukan untuk mengubah semuanya. Jangan tunggu aku pulang”

            Dia tak menjawabnya lagi

            Siding isbat menentukan tanggal 1 syawal di TV menunjukkan puncaknya. Menteri agama memutuskan bahwa besok sudah lebaran. Alhamdulillah, genap juga puasaku satu bulan. Kalau di rumah, lebaran selalu identik dengan saling salam, sapa antar keluarga, dan opor ayam, di sini tak ada semuanya. Bahkan aku harus naik motor lebih dari 5 kilometer untuk menunaikan sholat idul fitri. Dan aku harus bersujud di samping orang – orang yang tak kuketahui asalnya, dan tak pula kukenal. Semuanya terasa asing. Aku rindu rumah, ingin pulang, tapi ku tak bisa.

            Maafkan putramu ini ayah, ibu. Maafkan dia karena tak bisa bersimpuh di hadapan lututmu. Maafkan dia karena tak bisa mencium punggung tanganmu yang engkau gunakan untuk merawatnya sedari kecil. Maafkan dia karena tak bisa meminta maaf dan menangisi dosanya kepada kalian. Dia tak bermaksud meninggalkan kalian. Dia hanya ingin mengejar asa yang dari dulu ingin digenggamnya. Jangan sebut dia durhaka, ayah, ibu.

            Tuhan, aku bersimpuh kepadaMu, dengan mata basah, air mata pemberian dariMu tanda kasih sayangMu kepada kami. Aku meminta kepadaMu, Tuhan. Di tanah heterogen ini, di mana kami menjadi minoritas di sini, kumohon kuatkan tekadku, teguhkan imanku, bulatkan niatku, agar aku bisa hidup dan terus berada di jalanMu. Lepaskan aku dari rantai yang melilit kakiku, dan dari semua hal yang mengingatkan aku dengan masa lalu. Aku siap Tuhan, aku siap untuk berdamai dengan masa laluku, aku siap untuk memaafkan diriku sendiri. Hanya kepadaMu aku meminta, dan hanya kepadaMu jua aku memohon pertolongan. Amiin

            Aku berjalan ke depan cermin besar di kamarku, melihat bayangan yang merefleksikan diriku seutuhnya. Aku memandanginya dan tersenyum. “Terima kasih, ikhwan. Aku memaafkanmu. Maukah engkau memaafkanku juga?” aku meminta maaf kepada diriku sendiri, sebelum meminta maaf kepada orang tuaku.

            Kuambil handphone dari saku kiri kemejaku, dan segera menelepon ayah dan ibu.

            “Assalamu’alaikum” aku mencoba menegarkan diriku dan tak berusaha menunjukkan air mataku.

            “Wa’alaikumsalam” suara ibu terdengar dari speaker kecil handphoneku. Seketika itu pula aku runtuh dari pertahananku.

            “Maafkan segala dosa Ryan buk. Maaf karena Ryan nggak bisa pulang. Maaf karena tak bisa sungkem memeluk lutut ibuk. Maafkan Ryan yang hanya bisa mendengar suara ibuk dari jauh, buk”

            Pertahanan ibuku juga runtuh. Terdengar isak di sela beliau mendengarkanku

            “Ndak papa, le. Kamu yang baik di sana ya. Kamu jadi orang yang berguna, le. Setidaknya untuk dirimu sendiri. Ibuk selalu mendo’akanmu. Jangan tersesat di tengah perantauanmu ya, le”

            “Nggeh buk. Aku akan berusaha buk. Aku akan terus berbakti sama ibuk dan ayah. Aku janji buk”

            “Kamu ngomong sama ayah dulu, nggeh.” Terdengar suara ibuku menjauhi handphone. Beliau sudah tak sanggup lagi berkata – kata

            “Assalamu’alaikum, nak” ayahku berbicara. Selalu dengan nada teduh yang menenangkan kegelisahan hati anaknya.

            “Wa’alaikumsalam, ayah.” Aku berkata di sela tangisku. “Yah, Ryan minta maaf kalau selama ini belum menjadi contoh yang baik buat adik – adik. Ryan minta maaf kalau selama ini hanya bisa bikin keluarga malu. Ryan belum bisa bikin ayah bangga.” Aku tak kuasa melanjutkan kata – kataku. Semuanya telah tertelan oleh tangis haru karena mendengar sosok yang selama ini kukagumi, pelindung keluargaku.

            “Nggak papa, le. Raih cita – citamu. Kami akan menunggumu pulang. Kamu selalu punya tempat di sini. Kapanpun kamu mau pulang.” Ayah berkata dengan nada haru yang teramat sangat. Beliau terisak. Itu pertama kalinya beliau menangis untukku. “Kamu jaga diri di sana, le. Bali nggak seperti Jawa. Kamu harus tau batasanmu.”

            “Nggeh, ayah”

            Jaga sholatmu, ibadahmu, tubuhmu juga. Ayah cuman bisa mendo’akanmu dari sini, le”

            “Akan Ryan ingat semua nasihat ayah”

            “Ya sudah le kalau begitu. Assalamu’alaikum”

            “Wa’alaikumsalam, yah.” Aku terduduk bersandar dinding, tertunduk dan terus menangis. Kesedihanku melahap semuanya, tak tersisa.

            Setelah beberapa menit tertunduk, aku sadar. Masih ada satu hal terakhir untuk dilakukan. Aku harus meminta maaf kepada Luna. Aku mencoba meneleponnya, satu, dua, tiga kali. Baru ada jawaban.

            “Halo…” suara dari seberang sana. Aku masih ingat suara ini, masih sama seperti dahulu.

            “Assalamu’alaikum” kataku, dan satu menit berlalu tanpa ada jawaban.

            “Wa’alaikumsalam.” Suaranya tertahan.

            “Luna, aku telah memaafkanmu. Apakah kamu juga ingin memaafkanku?”

            “Aku memaafkanmu, Ryan. Aku sudah melakukannya sejak kamu meninggalkanku.” Deg… mendengarnya mengatakan itu membuatku menyadari bahwa aku telah berdosa meninggalkannya. “Maafkan aku juga, karena aku belum bisa menggantikan posisimu di hatiku. Aku akan mencobanya. Aku pasti bisa melakukannya. Aku yakin…” isak tangis terdengar di handphoneku. Dia mencoba menegarkan dirinya mengungkapkan itu semua. Tapi tangis yang tertahan selalu ingin diungkapkan.

            “Jangan kamu membebani dirimu dengan masa lalu, Luna. Aku pergi untuk kebaikan kita bersama. Karena memang tak ada lagi tempat untuk kita di sana”

            “Kenapa kamu pergi secepat itu. Kamu tak pernah memikirkan perasaanku.”

            “Aku pergi mengejar cita – citaku. Supaya ada yang bisa kubanggakan saat aku kembali nanti”

            “Kau egois.” Isak itu berubah menjadi tangis dan semakin kencang

            “Aku telah mencoba untuk tidak egois, Luna! Mengertilah posisiku. Kenapa kau hanya melihat sesuatu dari maatamu saja?”

            “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Luna berkata dengan nada yang sangat berat. Aku tak tau harus bagaimana menjawabnya.

“Jawab, Ryan!” dia berkata dengan penuh amarah.

“Kau harus melupakanku. Jangan tunggu aku lagi, Luna. Setidaknya kamu harus berbahagia, meski tanpa aku. Bukankah itu yang selalu kamu lakukan? Kalau kita memang berjodoh, aku pasti akan kembali untukmu.

“Cukup! Tidak! Jangan bicara soal jodoh. Aku selalu berharap kepada Tuhan kalau kamu bukan jodohku. Kau tak bisa datang lagi, dan sekali lagi menghancurkan hidupku. Aku tak mau!”

“Sekarang kamu bebas pergi. Aku tak akan menjadi pemberatmu lagi. Aku hanya orang dari masa lalumu. Aku tak akan menunggumu pulang lagi”

Tut… Tut… Tut…

Panggilanku diakhiri olehnya. Meski tak berakhir seindah yang kubayangkan, setidaknya ini semua telah berakhir. Memang itu yang terbaik untuk kita saat ini. Maafkan aku Luna

0 komentar:

Posting Komentar

 
;