Sabtu, 21 Desember 2019 0 komentar

Mari Berbincang

Bintangku, Kemarin ulang tahunmu.
Ya, aku takkan lupa.
Takkan mungkin aku melewatkannya begitu saja tanpa menyapa.
Tapi, taukah kau?
Aku sudah berdiri satu jam di depan cermin melafal, merapal apa yang ingin kusampaikan kepadamu.
Kertas di tanganku berisi lebih banyak coretan daripada kalimat selamat yang mudah dituliskan, tapi tercekat di tenggorokan.

Senin, 18 April 2016 0 komentar

Way Back Home

September, 11th. The wind blows slowly across the tress. Rustic leaves took to the air in the elegant dance. When the wind calms, the dance ends and the leaves lands into the ground. Fallen leaves has woken up a girl which sleeps in the park bench. This girl named Angel, an unlucky person which forces to live in the street since her parent divorced. Her father chooses to leave her mother for another girl, and her mother has passed away. It is really hard for Angel to continue her life, got no love and affection from anyone, and got no home to rest. The only thing can calm her down is a crystal meth. Being a drug abuser is not her choice, she got too much problem to be solved and the only thing which can make her  feel the pleasure and delight is a drug.


Selasa, 05 Januari 2016 0 komentar

Sepiring nasi pecel tak berdosa

Akulah diam. Yang kau cari saat kau tak lagi berkata. Akulah tentram. Saat malam mengagungkan gelapnya. Dan diantara bait-bait tanpa nada ini aku mencoba bersuara. Mencoba memanggil lagi kepingan hati yang telah kau bawa lari.

di pagi yang buta aku bersiap diri. Mengantarkan tubuh ini menepati apa yang telah kujanjikan kepada mata. Menemukan sosokmu yang sampai saat ini hanya merupakan gambaran-gambaran indah imajinasiku yang tak ber-rupa.

Kaulah sekeping rahasia yang tak pernah kukeluarkan dari kotaknya. Senyum manismu, adalah seduhan kopi pertama di pagi hari. Bukan sebuah rahasia, pada mata jenakamu aku jatuh cinta. Kita seperti teman lama yang pandai sekali bercengkrama. Selayaknya tumpukan halaman buku tua yang saling berhadapan. Sebagaimana detik kepada menit yang membuatnya berjalan.

Tetaplah di jalanmu, aku pun begitu. Kita akan lalui hari seperti biasanya. Agar semua yang ada tidaklah hanya sebuah angan semu yang tercipta dari hati yang menggebu. Jangan juga kau salahkan dia. Sepiring nasi pecel yang tak pernah berdosa.
Rabu, 04 November 2015 0 komentar

saat aku memilih pergi

Aku mencintaimu dalam kegundahan yang tak pernah kubagi. Dalam keheningan yang kututup rapat di pojok kamar. Dalam ketakutan berbentuk puisi setengah bait yang tak mampu kutulis ini.

Semua sayatan isyarat yang tak pernah mengetuk pintumu. kau bawa hati ini menemui ajalnya, manis. Hanya bait-bait sisa ini yang masih menemaniku menunggui pagi. aku lebih meyakini matahari daripada semua anganku sendiri.

Pernah terfikir, akulah tisu bekasmu. Yang kau cari hanya untuk membuang ingusmu, atau mengelap sisa air mata di atas lesung pipitmu. Ya, lesung pipit yang tak pernah membeku, mencairkan semua gundah saat menatapmu.

Datanglah kemari, manis. Telah kusiapkan tempat kecil untuk kau lukai. Saat kau ingin bercumbu dengan amarahmu, persis pelacur murahan di lorong-lorong gelap terowongan berujung sempit.

Apakah anganku terlalu tinggi, manis? Apakah semua tetaplah semoga yang tak ber-rupa? Atau hanya setumpuk barangkali yang tak pernah teramini?

Aku lelah mengejar sisa luapan cintamu yang tak beralamat kepadaku. Mengejar kepingan sebuah hati yang selalu kau kebiri. Kutinggalkan hadiah untukmu, manis. sebuah kotak kecil berbentuk hati. Jangan kau buka, isinya sama.
Rabu, 29 Juli 2015 0 komentar

a year on that cafe

Setiap orang pasti memiliki tempat untuk menghabiskan kesedihannya. Sebuah tempat yang sengaja dipilih untuk mencurahkan luka. Meledakkan tangis yang sudah dipendam dalam dada. Entah kenapa selalu kupilih tempat ini. Cafe mungil berhiaskan foto orang-orang kuno berpigura bundar. Beberapa barang yang terkesan vintage juga tersebar di dalam cafe. Tak ramai, pun tak sepi. Selalu ada kursi kosong dekat jendela yang bisa kugunakan untuk membuang muka.  

Selasa, 21 Juli 2015 0 komentar

sore, Sore!

Orang bilang aku gila. Tak tau kenapa hampir setiap teman yang baru berjumpa akan berkata sama. Aku tak gila, aku hanya tak suka mereka. Apa lebih menyukai tempat sempit disebut gila? Apa kurang bisa berkata-kata disebut gila? Apa suka sendirian juga bisa disebut gila? Bila mereka bisa menghakimi semua itu dengan gila, mungkin setengah populasi dunia berisi orang kurang waras.

Kamis, 27 November 2014 0 komentar

Jadikan Aku Makmummu



Lelah dan penat telah menjalar ke seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk mengikuti segala otorasi otakku.
 
;