Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 April 2016 0 komentar

Way Back Home

September, 11th. The wind blows slowly across the tress. Rustic leaves took to the air in the elegant dance. When the wind calms, the dance ends and the leaves lands into the ground. Fallen leaves has woken up a girl which sleeps in the park bench. This girl named Angel, an unlucky person which forces to live in the street since her parent divorced. Her father chooses to leave her mother for another girl, and her mother has passed away. It is really hard for Angel to continue her life, got no love and affection from anyone, and got no home to rest. The only thing can calm her down is a crystal meth. Being a drug abuser is not her choice, she got too much problem to be solved and the only thing which can make her  feel the pleasure and delight is a drug.


Kamis, 27 November 2014 0 komentar

Jadikan Aku Makmummu



Lelah dan penat telah menjalar ke seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk mengikuti segala otorasi otakku.
Senin, 03 November 2014 0 komentar

Sebuah Cerpen Tentang Seseorang


            Siang yang terik di depan sebuah stasiun kereta tua. Dia sedang menanti kereta yang akan mengantarkannya ke Jogja. Peluh menghias wajahnya yang merona terkena hamparan sinar matahari. Senyum tulusnya menyapa, hangat, bagai kilat jingga matahari senja.

Sabtu, 26 Juli 2014 0 komentar

Sebuah Cerpen - Jangan Tunggu Aku Pulang




Jam dinding besar di tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing – masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi, yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam berwarna biru muda.

            Terlihat beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.

Minggu, 21 Juli 2013 0 komentar

Sebuah Cerpen - Kamu

Mataku selalu beralih, antara jam tangan, buku yang sedang ku baca dan sebuah handphone mungil yang kubeli tahun lalu, hari ini tepat satu tahun setelah aku mengakhiri ceritaku, dengan dia. Tak pernah kusangka setelah 12 bulan, akhirnya kami dipertemukan kembali, memang sih bukan dengan status yang sama, tapi, semua memori tentangmu tak pernah bisa menguap dari kepalaku.

Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
 
;