September, 11th. The wind blows slowly across the
tress. Rustic leaves took to the air in the elegant dance. When the wind calms, the dance ends and the leaves lands into the ground.
Fallen leaves has woken
up a girl which sleeps in the park bench. This girl named Angel, an unlucky
person which forces
to live in the street since her parent divorced. Her father chooses to leave
her mother for another girl, and her mother has passed away. It is really hard
for Angel to continue her
life, got
no love and affection from anyone, and got no home to rest. The only thing can
calm her down is a crystal meth. Being a drug abuser is not her choice, she got
too much problem to be solved and the only thing which can make her feel the pleasure and delight is a drug.
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sebuah Cerpen. Tampilkan semua postingan
Lelah dan penat telah menjalar ke
seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan
kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata
kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya
untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk
mengikuti segala otorasi otakku.
Jam dinding besar di
tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu
di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang
ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing –
masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak
berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi,
yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam
berwarna biru muda.
Terlihat
beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang
menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang
terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta
yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya
akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan
bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.
Mataku selalu beralih, antara jam tangan, buku yang sedang ku baca dan
sebuah handphone mungil yang kubeli tahun lalu, hari ini tepat satu
tahun setelah aku mengakhiri ceritaku, dengan dia. Tak pernah kusangka
setelah 12 bulan, akhirnya kami dipertemukan kembali, memang sih bukan
dengan status yang sama, tapi, semua memori tentangmu tak pernah bisa
menguap dari kepalaku.
Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact