Minggu, 21 Juli 2013

Sebuah Cerpen - Kamu

Mataku selalu beralih, antara jam tangan, buku yang sedang ku baca dan sebuah handphone mungil yang kubeli tahun lalu, hari ini tepat satu tahun setelah aku mengakhiri ceritaku, dengan dia. Tak pernah kusangka setelah 12 bulan, akhirnya kami dipertemukan kembali, memang sih bukan dengan status yang sama, tapi, semua memori tentangmu tak pernah bisa menguap dari kepalaku.

Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini


Tak pernah aku seantusias ini menunggu datangnya seseorang, kalau itu bukan dari pesan singkatmu, tak akan ku menunggu lebih dari 1 jam untuk menjemput seseorang, meskipun mungkin itu mamaku. saat ku masih melamunkan hadirmu di sini, handphoneku berbunyi, sebuah pesan singkat dari nomor yang tak hanya kukenal, tapi juga selalu ku hafal. Kau.

"Masih lumayan jauh ndud, mungkin setengah jam lagi kalo keretanya nggak kress"
Kubaca pesan itu, lagi, lagi, mungkin lebih dari lima kali aku membacanya, baru kujawab singkat "iya" dan tak ada jawaban lagi. aku tak pernah bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ingin aku sampaikan, lidahku kelu, tanganku kaku, ingin kutulis lebih panjang dari itu, tapi aku tak sanggup, melihatmu saja sudah menyenangkanku, tak pernah kuberharap lebih, memilikimu? Ahhh hanya otakku.

masih setengah jam. Kuberkata dalam hati. tak tau dimulai dari mana, tiba2 fikiranku kembali, kembali ke masa yang indah dulu, saat aku masih memakai bawahan abu abu dan atasan putih, saat semua hariku diisi oleh semua hal2 indah, penuh suka dan yang paling ku nikmati, saat kita masih bersama, saling menyayangi, dan mengerti, saat kau memulai satu hubungan denganku, memikirkan itu, membuatku langsung memeluk gantungan kunci winnie the pooh yang kau hadiahkan saat ulang tahunku dulu

Ahhhh, mungkin kalau semua orang di stasiun ini melihatku tertawa sendiri, mereka sudah menganggapku gila, aku tak peduli, memikirkanmu memang menidurkan otakku, dan selanjutnya hatiku yang bertindak, mungkin karena itu aku mudah tersakiti, terutama olehmu, tapi tak pernah kuanggap semuanya, kalau terlalu mencintaimu sama dengan membunuhku, akan selalu kunikmati setiap sayatannya, meski pilu menghujamku

Masih kuingat saat kau berlutut menggenggam tanganku hangat, dan berkata ingin jadi pacarku, aku merasa dunia seperti berubah pada saat itu, mulai detik itu dan sampai saat ini pun, aku selalu rindu hadirmu, candu akan tawamu, dan pikiranku tak pernah berubah tentangmu. Tetap seperti dulu.
Lelah mulai menghinggapi tubuhku, kulihat jam tangan snoopy yang juga merupakan hadiah ulang tahunku darimu, sudah hampir 20 menit berlalu, kulirik handphone, tak ada pesan baru yang masuk, mengingatmu dengan singkat saja sudah bisa melahap habis seluruh waktuku, hidupku, aku tak tau berapa lama lagi kubertahan dari jerat pikiranku terhadapmu, ingin aku lepas, pergi, kucari orang lain yang bisa mengisi, tapi kau tak pernah mengijinkanku, anganku akanmu membunuhku pelan, dan perlahan, namun selalu ku simpan

Dari kejauhan kulihat sebuah cahaya lampu dari lokomotif kereta api, dan diiringi pengumuman dari narator stasiun, tanpa menduga dua kali, aku tau kalau itu adalah keretamu. Kulihat lagi layar handphoneku, ada satu pesan lagi muncul di sana, kamu. "Udah mau sampai, kamu udah berangkat?" Ingin sekali kujawab pesan itu dengan, sudah, aku menunggumu dari satu setengah jam lalu, sambil mengingat semua kenangan kita, tapi kuurungkan. "Iya, aku udah di stasiun ko, pake jaket ijo biasanya"
Dan lima menit kemudian, kereta itu sudah sampai didepan peron, semua penumpang turun dari kereta, kulayangkan pandanganku dari ujung kiri sampai ujung kanan, tak kutemukan dia, kususuri mulai dari pintu gerbong depan kembali ke belakang lagi, tak kulihat dia, tak tau apa yang harus kulakukan, aku kembali duduk di bangku panjang tadi sambil berfikir, entah, mungkin dia akan melihatku

Mataku sayu, aku tertunduk lesu, pilu, tak kutemui sosokmu, diam aku merenung, harusnya tadi tak kuhiraukan saja pesan singkatnya, harusnya tadi aku tak perlu berlama lama menunggu di sini, kenapa ku harus tertipu lagi, tersakiti lagi. Semua memori indah akanmu tadi berganti, saat kau berselingkuh dengan seseorang yang kukenal, saat kau harus cemburu karena aku dekat dengan sahabatku, saat kau harus membuatku mengabarimu setiap jamnya, saat kau membuatku memilih2 teman mana yg boleh dekat denganku, saat kau berpamitan karena kau harus pergi jauh, dan saat kau berkata kalau kita berdua sudah tak punya kesamaan lagi, kehidupan kita sudah lain, perasaan kita sudah tak sama, dan kamu minta mengakhirinya.

Aku tertunduk, kubenamkan wajahku kedalam tasku, tak kurasa air mataku meleleh turun membasahi pipiku, aku tersengguk, tertunduk, tak ingin kuberlalu meski sudah tak banyak orang di stasiun ini, aku menyayat hatiku sendiri. Lagi. Aku terus membenamkan wajahku sampai air mata itu kering, tanpa ku berani mengangkatnya, sampai tak kusadari seseorang telah duduk di sampingku. Den dengan santainya dia berkata "stasiun ini, kalo agak maleman gini pasti dingin ya, pantes cewek sebelah gue sampai keluar2 ingusnya" deggg, waktuku terhenti, aku kenal, bahkan hafal suara ini, kuangkat wajahku dari tasku yang sudah basah kuyup karena air mataku, sambil masih sesenggukan, kuniatkan diriku berkata "kamu dari mana?" Dan dia cuma tersenyum, senyum yang selalu kuingat, yang selalu menghangatkanku, menghapus lukaku di hati, meski dia sendiri yang membuatnya "kamu pasti udah nungguin dari pertama aku sms tadi, iya ndud? Makan yuk, aku lapar, kamu pasti juga lapar nungguin dari tadi" aku selalu bingung perasaan apa yang harus kukeluarkan kalau harus berhadap2an denganmu, aku tau tau, mungkin karena memang bukan aku sendiri yang memiliki hatiku, tapi kamu.

a tribute shofi cahya @shofich
silahkan share cerita temen temen, kalo ada waktu luang insyaAloh dibikinin juga :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;