Siang
yang terik di depan sebuah stasiun kereta tua. Dia sedang menanti kereta yang
akan mengantarkannya ke Jogja. Peluh menghias wajahnya yang merona terkena
hamparan sinar matahari. Senyum tulusnya menyapa, hangat, bagai kilat jingga
matahari senja.
“Aku juga nggak tau,
kalau kamu segede ini,” dia berkata. Dilanjutkan dengan tawa riang yang
menghiasi wajahnya.
Kuambil buku yang sudah
kusiapkan dalam tas coklatku dan menyerahkan padanya, “ini, for your wisdom,”
kataku. Dia menerimanya dengan tersenyum
“Makasih,” dia membuka
buku itu perlahan dan membacanya satu halaman, “Bahasa Inggris?” Tanyanya.
Kujawab dengan anggukan. “Lumayan buat assignment,” dia tertawa.
Tak banyak lagi kalimat
yang terucap siang itu, hanya satu atau dua dariku atau dia. aku berpamitan
dengannya, dan diapun segera menuju peron stasiun, menunggu keretanya dengan
sabar.
Itu kali pertama aku
bertemu dengannya. Hanya sekali dan teramat singkat. Tak lebih dari 15 menit. Tapi
pertemuan itu cukup meninggalkan kesan di diriku. Kesan yang tak akan mudah
kulupakan begitu saja. Setelah 6 bulan aku berhubungan dengannya lewat layar
hape, baru kali itu aku melihatnya secara langsung. Aku selalu mengingatnya.
Tubuh mungilnya, senyumannya, tatap mata teduhnya, rona merah di pipinya saat
matahari membakar kulit putihnya. Aku tak akan lupa. Gadis misterius dengan
rambut kuncir kuda.
Aku ingat saat pertama
kali temanku bercerita tentang dia. Tentang seorang gadis yang benar-benar
dewasa. Dan saat itu pula, aku langsung menyebutmu dengan julukan “The
Beautiful City”, “Kota yang indah.” Kota yang penuh dengan kilauan cahaya batu
permata. Kota yang penuh dengan ratusan warna bunga. Kota yang penuh dengan taman-taman
indah dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Kota dengan arsitektur tanpa
cela, ciptaan Yang Maha Pencipta.
Tapi, saat itu pula,
ada banyak pertanyaan yang muncul begitu saja di otakku. Kenapa kota yang indah
itu hanya didiami beberapa penduduk saja? Ada terlalu banyak rahasia yang
disembunyikan kota itu. Ada terlalu banyak hal yang coba ditutupi. Kota itu
berada di tengah padang gurun gersang, berteman para bintang. Dia dikelilingi
oleh tembok raksasa yang menyembunyikan semua keindahannya. Di depannya
terdapat pintu besar yang tak pernah terbuka. Dan lebih dari seribu penjaga
telah disiapkan untuk memanah siapapun yang ingin memanjatnya.
Gadis kuncir kuda itu,
dengan tanpa cela, sanggup menutupi semua luka. Gadis yang sudah terluka
terlalu lama, terlalu dalam, dan terlalu pedih, hingga akhirnya membuat dia
berusaha menutup pintu hatinya untuk siapapun, menyeleksi semua orang yang
ingin mengetuknya. Hatinya terluka, tapi sorot mata teduhnya mengisyaratkan
bahwa dia baik-baik saja. Hatinya terkoyak, tapi senyumnya seolah selalu
berkata tidak. Dia menutupnya rapat-rapat, membiarkannya begitu saja. Dia
berharap agar sang waktu –dengan segala sihirnya– bisa menyembuhkan hatinya.
Berharap hati yang telah hancur berkeping-keping itu bisa utuh dengan
sendirinya.
Mendengar semua cerita
tentangnya, membuatku bertekad. Aku ingin mengobati luka itu dan membagi secuil
kebahagiaan yang kupunya dengannya. Aku ingin membahagiakan gadis kuncir kuda
itu, membuatnya tersenyum tulus tanpa beban. Aku ingin menanggung semua
kebencian yang menutupi sinar mata teduhnya. Akan kurelakan semua waktu dan
tenagaku untuk menyembuhkannya. Akan kusesatkan diriku dalam keabadian yang
tercipta oleh lukanya yang menganga. Akan kubuat diriku menganggung separuh,
bahkan semua pedih yang sudah terlanjur ada.
Kau
adalah cahaya gemerlap bintang terang, yang terbelah karena sebuah ledakan
hebat
Kau
adalah semburat jingga matahari senja, yang sirna ditelan gelap malam
Kau
adalah udara hangat musim panas, yang berlalu mengikuti titah angin
Kau
adalah bias warna pelangi, saat hujan memutuskan untuk pergi
Kau
adalah mimpi indah, yang hilang begitu saja saat aku membuka mata
Kau
ada, sekaligus tak ada
Kau
datang dan dalam imajinasi tak hingga sang waktu kau menghilang

0 komentar:
Posting Komentar