Senin, 03 November 2014

Sebuah Cerpen Tentang Seseorang


            Siang yang terik di depan sebuah stasiun kereta tua. Dia sedang menanti kereta yang akan mengantarkannya ke Jogja. Peluh menghias wajahnya yang merona terkena hamparan sinar matahari. Senyum tulusnya menyapa, hangat, bagai kilat jingga matahari senja.

            “Aku nggak nyangka, kamu kecil,” kataku saat itu. Aku tertawa.
“Aku juga nggak tau, kalau kamu segede ini,” dia berkata. Dilanjutkan dengan tawa riang yang menghiasi wajahnya.
Kuambil buku yang sudah kusiapkan dalam tas coklatku dan menyerahkan padanya, “ini, for your wisdom,” kataku. Dia menerimanya dengan tersenyum
“Makasih,” dia membuka buku itu perlahan dan membacanya satu halaman, “Bahasa Inggris?” Tanyanya. Kujawab dengan anggukan. “Lumayan buat assignment,” dia tertawa.
Tak banyak lagi kalimat yang terucap siang itu, hanya satu atau dua dariku atau dia. aku berpamitan dengannya, dan diapun segera menuju peron stasiun, menunggu keretanya dengan sabar.
Itu kali pertama aku bertemu dengannya. Hanya sekali dan teramat singkat. Tak lebih dari 15 menit. Tapi pertemuan itu cukup meninggalkan kesan di diriku. Kesan yang tak akan mudah kulupakan begitu saja. Setelah 6 bulan aku berhubungan dengannya lewat layar hape, baru kali itu aku melihatnya secara langsung. Aku selalu mengingatnya. Tubuh mungilnya, senyumannya, tatap mata teduhnya, rona merah di pipinya saat matahari membakar kulit putihnya. Aku tak akan lupa. Gadis misterius dengan rambut kuncir kuda.
Aku ingat saat pertama kali temanku bercerita tentang dia. Tentang seorang gadis yang benar-benar dewasa. Dan saat itu pula, aku langsung menyebutmu dengan julukan “The Beautiful City”, “Kota yang indah.” Kota yang penuh dengan kilauan cahaya batu permata. Kota yang penuh dengan ratusan warna bunga. Kota yang penuh dengan taman-taman indah dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Kota dengan arsitektur tanpa cela, ciptaan Yang Maha Pencipta.
Tapi, saat itu pula, ada banyak pertanyaan yang muncul begitu saja di otakku. Kenapa kota yang indah itu hanya didiami beberapa penduduk saja? Ada terlalu banyak rahasia yang disembunyikan kota itu. Ada terlalu banyak hal yang coba ditutupi. Kota itu berada di tengah padang gurun gersang, berteman para bintang. Dia dikelilingi oleh tembok raksasa yang menyembunyikan semua keindahannya. Di depannya terdapat pintu besar yang tak pernah terbuka. Dan lebih dari seribu penjaga telah disiapkan untuk memanah siapapun yang ingin memanjatnya.
Gadis kuncir kuda itu, dengan tanpa cela, sanggup menutupi semua luka. Gadis yang sudah terluka terlalu lama, terlalu dalam, dan terlalu pedih, hingga akhirnya membuat dia berusaha menutup pintu hatinya untuk siapapun, menyeleksi semua orang yang ingin mengetuknya. Hatinya terluka, tapi sorot mata teduhnya mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Hatinya terkoyak, tapi senyumnya seolah selalu berkata tidak. Dia menutupnya rapat-rapat, membiarkannya begitu saja. Dia berharap agar sang waktu –dengan segala sihirnya– bisa menyembuhkan hatinya. Berharap hati yang telah hancur berkeping-keping itu bisa utuh dengan sendirinya.
Mendengar semua cerita tentangnya, membuatku bertekad. Aku ingin mengobati luka itu dan membagi secuil kebahagiaan yang kupunya dengannya. Aku ingin membahagiakan gadis kuncir kuda itu, membuatnya tersenyum tulus tanpa beban. Aku ingin menanggung semua kebencian yang menutupi sinar mata teduhnya. Akan kurelakan semua waktu dan tenagaku untuk menyembuhkannya. Akan kusesatkan diriku dalam keabadian yang tercipta oleh lukanya yang menganga. Akan kubuat diriku menganggung separuh, bahkan semua pedih yang sudah terlanjur ada.

Kau adalah cahaya gemerlap bintang terang, yang terbelah karena sebuah ledakan hebat
Kau adalah semburat jingga matahari senja, yang sirna ditelan gelap malam
Kau adalah udara hangat musim panas, yang berlalu mengikuti titah angin
Kau adalah bias warna pelangi, saat hujan memutuskan untuk pergi
Kau adalah mimpi indah, yang hilang begitu saja saat aku membuka mata
Kau ada, sekaligus tak ada
Kau datang dan dalam imajinasi tak hingga sang waktu kau menghilang

0 komentar:

Posting Komentar

 
;