Setiap orang pasti memiliki tempat untuk menghabiskan kesedihannya. Sebuah tempat yang sengaja dipilih untuk mencurahkan luka. Meledakkan tangis yang sudah dipendam dalam dada. Entah kenapa selalu kupilih tempat ini. Cafe mungil berhiaskan foto orang-orang kuno berpigura bundar. Beberapa barang yang terkesan vintage juga tersebar di dalam cafe. Tak ramai, pun tak sepi. Selalu ada kursi kosong dekat jendela yang bisa kugunakan untuk membuang muka.
Orang bilang aku gila. Tak tau kenapa hampir setiap teman yang baru berjumpa akan berkata sama. Aku tak gila, aku hanya tak suka mereka. Apa lebih menyukai tempat sempit disebut gila? Apa kurang bisa berkata-kata disebut gila? Apa suka sendirian juga bisa disebut gila? Bila mereka bisa menghakimi semua itu dengan gila, mungkin setengah populasi dunia berisi orang kurang waras.
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact