Rabu, 29 Juli 2015

a year on that cafe

Setiap orang pasti memiliki tempat untuk menghabiskan kesedihannya. Sebuah tempat yang sengaja dipilih untuk mencurahkan luka. Meledakkan tangis yang sudah dipendam dalam dada. Entah kenapa selalu kupilih tempat ini. Cafe mungil berhiaskan foto orang-orang kuno berpigura bundar. Beberapa barang yang terkesan vintage juga tersebar di dalam cafe. Tak ramai, pun tak sepi. Selalu ada kursi kosong dekat jendela yang bisa kugunakan untuk membuang muka.  

Hari ini aku ingin bertemu dengannya di cafe itu. Dia yang tak ku tau kabarnya setahun terakhir. Dia yang selalu memiliki ruang kecil di hati ini. Dia yang menyita seluruh doaku saat aku bersujud. Dia yang kutinggalkan setahun yang lalu. Dia yang kini mengenakan kaos putih berbalut cardingan hitam. Dia yang duduk sendiri di tempat favorit "kita". 

Kinan masih menunduk. Pandangannya tak pernah lepas dari ujung cangkir yang dimainkan jarinya sendiri. Gumpalan tissu yang entah sudah berapa kali mencoba menghapus air matanya tercecer di meja. Tak bisa. Tangis itu terlalu deras bagai air terjun di musim hujan. Sesenggukan, dia mencoba untuk lupa. Lupa pada hal paling menyakitkan yang membuka sayatan di hatinya. 

Aku tak bisa berbuat banyak, hanya memandangi cangkir berisi kopi yang sengaja ia pesan untukku. Mungkin diam telah menjelmakan dirinya menjadi aksara diantara kita. Aku tak tau dari mana ini semua bermula, sekarang hanya tersisa aku, kinan, dan kesunyian yang pekat mencekat.

Tak kusentuh cangkir itu, mataku hanya memperhatikannya. Nafas berat terhembus dari hidungku, menerpa rambutnya yang hitam pekat. Perlahan bergerak turun menutupi pipi yang basah. Ini harus kuakhiri. Perang melawan sunyi ini harus kulakukan dan akan kumenangkan.

"Kinan," aku mencoba untuk menyapanya. Mencoba menghangatkan hatinya. Mencoba mencabut luka yang kutancapkan sendiri pada dirinya. Dia menundukkan mukanya semakin dalam. 

"Kinanti," sapaku lagi. Dia tetap tak bergeming. Kesunyian ini jauh lebih dalam dibandingkan gelap malam. Aku tak tau bagaimana membuatnya menatapku.

"Kinanti, dengarkan aku," suaraku bergema di cangkir, membuat riak kopi yang tak beraturan. Aku bosan memanggilnya.

"Maaf... Aku tak pernah bermaksud membiarkan ini semua terjadi. Aku tak pernah bermaksud,"

Kinan mengalihkan wajahnya. Kali ini giliran kaca jendela besar di kanannya. Kinan menatapnya seakan kaca itu adalah musuhnya. Benci. Itu bukan kebiasaannya, itu kebiasaanku. Apa maksudnya?

"Aku tak pernah bermaksud meninggalkanmu sendiri. Aku pergi untuk kembali. Kau tau aku, kan?" Aku menjejalinya dengan pertanyaan yang tak kutau sendiri jawabannya. Mungkin aku hanya menerka.

"Satu tahun aku tak bertemu denganmu. Satu tahun aku memendam semua perasaan ini sendirian. Aku hanya ingin menemuimu," aku adalah orang yang egois. Aku yang meninggalkannya. Aku yang tak sempat berucap selamat tinggal satu hari sebelum pernikahan kami. Aku yang hanya bisa pasrah, kalah terhadap perjudianku sendiri. Aku bukan penjudi yang hebat, dan tak tau kapan waktunya mengakhiri.

Mata kinanti merah, menahan tangis yang tak kunjung habis. Menahan rasa amarah yang tak kunjung reda. Hanya nafas berat dan sesenggukan yang keluar dari kerongkongannya.

"Dika..." Kinanti menyebut namaku, tapi matanya tetap memandang jauh keluar cafe mungil ini. Memperhatikan anak kecil yang lebih pantas jadi pelajar daripada pengamen jalanan. 

"Maafkan aku, aku tak bisa mencegahmu," kinanti berbisik lirih. 

"Aku tak bisa mencegahmu meninggalkan cafe ini," aku tak mengerti. Lelucon apa ini? 

"Aku tak bisa membuatmu kembali..." Apa ini, apa yang coba kau katakan, kinan?dadaku sesak dipenuhi oleh pertanyaan yang tak bisa kujawab. Lelucon apa ini? Apa maksud kinanti? Aku hanya bisa berharap kinan berkata lebih banyak lagi.

Tetapi saat aku berharap terlalu banyak, semuanya tidak terjadi. Kinan kembali berhenti berkata-kata. Lidahnya kelu, pandangannya tak lagi keluar jendela. Dia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya. Isak tangis kembali terdengar. Hening kembali menyerang kedamaian kami.

Aku mencoba mengingatnya.

Aku setahun yang lalu.

Aku yang meminang kinanti dengan kotak beludru merah, berisi cincin mungil yang pas di jari manisnya. Kulirik jari manisnya, masih tersemat indah di sana.

Aku yang memutuskan menyatukan "kami" menjadi "kita"

Aku yang berjanji membuatmu bahagia.

Aku yang berkata kita akan punya 2 anak bernama "serein" dan "senja"

Aku yang kau hianati.

Aku yang melihatmu di cafe ini, dengan seorang pria. Kalian sangat mesra.

Aku yang marah dan memukul tepat di pipinya. Aku lupa wajahnya. Tak ingin kuingat.

Aku yang tak mendengarkan penjelasanmu dan memutuskan untuk meninggalkanmu di cafe ini.

Aku yang membuang cincin milikku... Dan apa ini, kau memakainya sebagai liontin.

Aku yang keluar cafe dengan rasa amarah yang membuncah.

Aku yang...

Lamunanku terhenti. Aku melhat Kinan yang menatap vanilla latte-nya. Masih sisa separuh dan ia memtuskan untuk menyudahi kesedihan ini. Semua suram yang tercipta dariku dan hatinya sendiri. Kinan berdiri dari kursi. Dia meninggalkanku penuh tanda tanya yang memenuhi kepala sempit ini. Aku masih tak tau. 

"Jangan pergi..." aku menatap sosoknya terus melewatiku. Dia menghembuskan nafas berat dan segera berlalu menuju pintu.

Aku berdiri mencoba mengejarnya. Langkahku terhenti. Aku melihat papan tulis di sebelah kasir. View yang tidak kelihatan saat memasuki cafe ini. Aku melihat potret wajahku, digambar dengan kapur tulis bertuliskan "in memoriam satu tahun meninggalnya Dika Setya Kurnia"

Aku tercengang. Terpaku melihat tulisan yang membuat jantungku berhenti berdetak. Tidak. Dari tadi memang tak pernah berdetak. Aku baru menyadarinya. 

Aku menemukan puzzle yang hilang itu. 

Aku yang sangat marah dan benci. 

Aku yang melempar cincin pertunangan "kita" dan memutuskan untuk pergi.

Aku yang menyeberang jalan tanpa melihat ada mobil yang mendekatiku dengan cepat.

Aku yang...

Aku yang melihatmu memelukku erat. Menangis kencang tapi tak bisa mendengarnya. Aku yang mengumpulkan sisa tenagaku sebelum mataku tertutup seutuhnya. Aku yang mencoba menyunggingkan senyum. Senyum yang selalu kau nanti. Senyum yang selalu menghapus lukamu, tak peduli siapa yang menorehkannya. 

Aku yang mengelus pipimu, bahkan halusnya masih terasa di tangan dingin ini. Aku yang mencoba mengutarakan kalimat perpisahan untukmu.

Aku yang meminta maaf kepadamu, "maafkan aku, kinanti."


0 komentar:

Posting Komentar

 
;