Aku mencintaimu dalam kegundahan yang tak pernah kubagi. Dalam keheningan yang kututup rapat di pojok kamar. Dalam ketakutan berbentuk puisi setengah bait yang tak mampu kutulis ini.
Semua sayatan isyarat yang tak pernah mengetuk pintumu. kau bawa hati ini menemui ajalnya, manis. Hanya bait-bait sisa ini yang masih menemaniku menunggui pagi. aku lebih meyakini matahari daripada semua anganku sendiri.
Pernah terfikir, akulah tisu bekasmu. Yang kau cari hanya untuk membuang ingusmu, atau mengelap sisa air mata di atas lesung pipitmu. Ya, lesung pipit yang tak pernah membeku, mencairkan semua gundah saat menatapmu.
Datanglah kemari, manis. Telah kusiapkan tempat kecil untuk kau lukai. Saat kau ingin bercumbu dengan amarahmu, persis pelacur murahan di lorong-lorong gelap terowongan berujung sempit.
Apakah anganku terlalu tinggi, manis? Apakah semua tetaplah semoga yang tak ber-rupa? Atau hanya setumpuk barangkali yang tak pernah teramini?
Aku lelah mengejar sisa luapan cintamu yang tak beralamat kepadaku. Mengejar kepingan sebuah hati yang selalu kau kebiri. Kutinggalkan hadiah untukmu, manis. sebuah kotak kecil berbentuk hati. Jangan kau buka, isinya sama.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar