Selasa, 05 Januari 2016 0 komentar

Sepiring nasi pecel tak berdosa

Akulah diam. Yang kau cari saat kau tak lagi berkata. Akulah tentram. Saat malam mengagungkan gelapnya. Dan diantara bait-bait tanpa nada ini aku mencoba bersuara. Mencoba memanggil lagi kepingan hati yang telah kau bawa lari.

di pagi yang buta aku bersiap diri. Mengantarkan tubuh ini menepati apa yang telah kujanjikan kepada mata. Menemukan sosokmu yang sampai saat ini hanya merupakan gambaran-gambaran indah imajinasiku yang tak ber-rupa.

Kaulah sekeping rahasia yang tak pernah kukeluarkan dari kotaknya. Senyum manismu, adalah seduhan kopi pertama di pagi hari. Bukan sebuah rahasia, pada mata jenakamu aku jatuh cinta. Kita seperti teman lama yang pandai sekali bercengkrama. Selayaknya tumpukan halaman buku tua yang saling berhadapan. Sebagaimana detik kepada menit yang membuatnya berjalan.

Tetaplah di jalanmu, aku pun begitu. Kita akan lalui hari seperti biasanya. Agar semua yang ada tidaklah hanya sebuah angan semu yang tercipta dari hati yang menggebu. Jangan juga kau salahkan dia. Sepiring nasi pecel yang tak pernah berdosa.
 
;