Lelah dan penat telah menjalar ke
seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan
kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata
kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya
untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk
mengikuti segala otorasi otakku.
Kulirik
isi kamar sebentar. Rapi. Hanya beberapa buku yang tergeletak di atas kasur,
materi tugasku hari ini. Pintu kamar mandiku terbuka. Air menggantung malas
dari kran air yang tak tertutup sepenuhnya. Ingin rasanya menceburkan diriku ke
dalam bak mandi. Menggantikan semangat yang telah menguap dari setiap inchi
pori-pori kulitku. Pukul 17.10 sore. Aku harus segera bersiap sebelum gema
adzan maghrib masuk ke sela-sela jendela dan tembok kamar kostku yang bercat oranye.
15
menit sudah cukup untuk menyudahi segala aktifitasku. Aku mematut diriku di
depan cermin gantung seberang tempat tidur. Baju lengan panjang biru-laut
dengan jilbab berwarna senada. Tas kecil berisi mukenah bergelayut manja di
pundak kiriku. Perlahan kututup pintu kamar dan berjalan menuju mushola yang
terletak sepelemparan batu dari kostku.
Hawa
panas yang seharian mengungkung kota ini memudar. Berganti dengan cuaca yang
lebih bersahabat – meskipun masih terasa gerah. Sang mentari sudah tak lagi berada
di singgasananya, menyisakan semburat yang perlahan tertutup awan kelabu. Bulan
dan bintangpun tak nampak. Hanya gumpalan awan hitam yang seakan membelah diri,
memenuhi tahta langit. Kalau alam memang bisa berbicara, aku tak tau pertanda
apa yang alam siapkan untukku kali ini.
Gerbang
mushola bercat hijau kusam terpapar sinar matahari nampak di depan mata.
Terbuka. Adzan maghrib berkumandang melalui TOA yang suaranya mencakup radius 1
km. Kuletakkan sandalku dan segera menuju pintu bertuliskan “khusus jamaah
putri.”
Dua
langkah lagi menuju pintu, kakiku terhenti. Aku termenung melihatmu duduk di
pelataran masjid. Aku salah tingkah. Pintu di depanku seakan menjauh dan
hamparan ubin di belakangku juga seakan bertambah banyak. Aku bagai di tengah
tempat yang serba tanggung dan tak bisa melakukan apapun. Semua perintah dari
otak untuk menggerakkan tubuhku terhenti pada satu titik. Hatiku. Hanya ekor
mataku saja yang sedari tadi bergerak, mengikuti setiap langkahmu.
“Assalamu’alaikum,”
kau berkata membelah semua kecanggungan ini. Suara adzanpun seakan kalah dengan
suaramu yang tiba-tiba mengucapkan salam. Pelan, namun bertenaga. Lirih, namun
berhasil singgah.
“W-a-a-l-a-i-k-u-m-s-a-l-a-m,”
jawabku terbata. Lidahku tercekat. Demi melihatku gugup, kau tersenyum. Senyum
setengah tawa atau apalah.
“Cepetan wudhu gih, udah mau iqomat,”
kau tersenyum lagi. Aku memperhatikan punggungmu yang perlahan pergi menuju
tempat wudhu.
“Eh... iya. Makasih,” kataku lirih,
tak peduli kau mendengarkannya atau tidak. Punggung itu tak nampak lagi. Aku
segera bertolak ke tempat wudhu dan masuk ke pintu ‘khusus jamaah putri’
Iqomat berkumandang.
Menyisakan lengang sejenak sebelum imam mengangkat tangan takbiratul ihram. Pikiranku tak lagi lurus, terdistorsi oleh
kejadian di pelataran mushola barusan.
Sebelum
mengangkat tanganku, mataku berputar-putar mencari dari kiri ke kanan. Berharap
bisa menemukan sosok berbaju koko dan kopiah putih yang tadi menyapaku di
serambi. Sekat pemisah jamaah yang tingginya hanya sedada memudahkanku
menemukanmu. Kau di sana, satu shaf di belakang imam. Tak bisa kulihat wajah
khusyukmu saat melakukan takbiratul ihram.
Hanya punggungmu. Itu cukup. Bukankah selama ini hanya itu yang bisa kulakukan?
Bukankah hanya itu yang selalu kulihat darimu? Tak lebih. Aku hanya bisa
berdiri di belakangmu, menatap semua tingkahmu dan berharap – meskipun hanya
secuil – kau melihatku.
Andai aku bisa
shalat satu shaf dibelakangmu, menjadi makmummu. Menemanimu dalam setiap sujud
menghadap Sang Pencipta, Yang Maha Memiliki Cinta. Andai aku tak hanya bisa
melihat punggungmu saja. Menatap sebelah kiri tubuhmu saat kau menunaikan
shalat. Memperhatikan matamu yang perlahan terpejam menghayati takbiratul ihram. Bibirmu yang terbuka,
mengucap lirh “Allahu akbar.”
Mendengar syahdu bacaan Al-Fatihah.
Mengikuti setiap gerakanmu dan menjadi orang pertama yang kau lihat saat engkau
mengucapkan salam. Andai saja.
“Assalamualaikum.”
“Assalamualaikum.”
Imam menyudahi
shalat maghrib. Entah shalatku diterima atau tidak. Sepanjang 3 rakaat aku
lebih banyak meng-imajinasikanmu. Aku tak bisa khusyu’. Aku berharap Tuhan memaafkanku kali ini.
Sayup terdengar
imam berdoa “robbana hablana min azwajina
wadzurriyatina qurrota ‘ayun, waja’alna lilmuttaqina imama. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
pasangan kami dan keturunan kami sebagai penenang hati kami, dan jadikanlah
kami sebagai pemimpin dari orang-orang yang bertakwa.” Amin yang sangat
tulus terucap lirih dari bibirku.
Mukenah sudah
kulepas, berganti dengan jilbab biru-lautku, kukembalikan ke dalam tas mungil
yang selalu kubawa saat shalat. Aku keluar dari ruangan ‘khusus jamaah putri’
dan kulihat kau berdiri di depan gerbang mushola, sepertinya menunggu
seseorang. Dan lagi, hanya punggungmu yang bisa kuamati.
Seorang wanita berjilbab
setengah berlari menghampirimu. Demi melihatnya, kau tersenyum. Senyum indah
yang jarang kulihat. Senyum tulus yang tak pernah kau tunjukkan kepadaku. Aku
tau wanita itu, dia yang shalat tepat di kiriku tadi. Kini dia berjalan
berdampingan denganmu. Kulihat kau dan wanita itu saling bertatap muka, saling
melemparkan canda, seakan dunia ini hanya milik kalian saja. Lalu aku ini apa?
Aku ini siapa? Apakah seumur hidupku hanya bisa memandangi punggungmu saja?
Hujan turun
dengan tiba-tiba. Deras sekali. Menutupi seluruh tangis yang jatuh saat kulihat
punggung itu pergi.
Story by Dia Arnia Putri
Story by Dia Arnia Putri

0 komentar:
Posting Komentar