Kamis, 27 November 2014

Jadikan Aku Makmummu



Lelah dan penat telah menjalar ke seluruh tubuhku saat kudorong pintu kamar kostku perlahan. Tak hanya tangan dan kaki, namun seluruh ujung aliran darahku seakan bekerja ekstra hari ini. Mata kuliah tambahan, rapat organisasi, naik-turun tangga lantai 3 fakultasku hanya untuk mencari sebuah tanda tangan. Lengkap sudah 8 jam tubuh ini kuforsir untuk mengikuti segala otorasi otakku.

            Kulirik isi kamar sebentar. Rapi. Hanya beberapa buku yang tergeletak di atas kasur, materi tugasku hari ini. Pintu kamar mandiku terbuka. Air menggantung malas dari kran air yang tak tertutup sepenuhnya. Ingin rasanya menceburkan diriku ke dalam bak mandi. Menggantikan semangat yang telah menguap dari setiap inchi pori-pori kulitku. Pukul 17.10 sore. Aku harus segera bersiap sebelum gema adzan maghrib masuk ke sela-sela jendela dan tembok kamar kostku yang bercat oranye.
            15 menit sudah cukup untuk menyudahi segala aktifitasku. Aku mematut diriku di depan cermin gantung seberang tempat tidur. Baju lengan panjang biru-laut dengan jilbab berwarna senada. Tas kecil berisi mukenah bergelayut manja di pundak kiriku. Perlahan kututup pintu kamar dan berjalan menuju mushola yang terletak sepelemparan batu dari kostku.
            Hawa panas yang seharian mengungkung kota ini memudar. Berganti dengan cuaca yang lebih bersahabat – meskipun masih terasa gerah. Sang mentari sudah tak lagi berada di singgasananya, menyisakan semburat yang perlahan tertutup awan kelabu. Bulan dan bintangpun tak nampak. Hanya gumpalan awan hitam yang seakan membelah diri, memenuhi tahta langit. Kalau alam memang bisa berbicara, aku tak tau pertanda apa yang alam siapkan untukku kali ini.
            Gerbang mushola bercat hijau kusam terpapar sinar matahari nampak di depan mata. Terbuka. Adzan maghrib berkumandang melalui TOA yang suaranya mencakup radius 1 km. Kuletakkan sandalku dan segera menuju pintu bertuliskan “khusus jamaah putri.”
            Dua langkah lagi menuju pintu, kakiku terhenti. Aku termenung melihatmu duduk di pelataran masjid. Aku salah tingkah. Pintu di depanku seakan menjauh dan hamparan ubin di belakangku juga seakan bertambah banyak. Aku bagai di tengah tempat yang serba tanggung dan tak bisa melakukan apapun. Semua perintah dari otak untuk menggerakkan tubuhku terhenti pada satu titik. Hatiku. Hanya ekor mataku saja yang sedari tadi bergerak, mengikuti setiap langkahmu.
            “Assalamu’alaikum,” kau berkata membelah semua kecanggungan ini. Suara adzanpun seakan kalah dengan suaramu yang tiba-tiba mengucapkan salam. Pelan, namun bertenaga. Lirih, namun berhasil singgah.
            “W-a-a-l-a-i-k-u-m-s-a-l-a-m,” jawabku terbata. Lidahku tercekat. Demi melihatku gugup, kau tersenyum. Senyum setengah tawa atau apalah.
            “Cepetan wudhu gih, udah mau iqomat,” kau tersenyum lagi. Aku memperhatikan punggungmu yang perlahan pergi menuju tempat wudhu.
            “Eh... iya. Makasih,” kataku lirih, tak peduli kau mendengarkannya atau tidak. Punggung itu tak nampak lagi. Aku segera bertolak ke tempat wudhu dan masuk ke pintu ‘khusus jamaah putri’
Iqomat berkumandang. Menyisakan lengang sejenak sebelum imam mengangkat tangan takbiratul ihram. Pikiranku tak lagi lurus, terdistorsi oleh kejadian di pelataran mushola barusan.
Sebelum mengangkat tanganku, mataku berputar-putar mencari dari kiri ke kanan. Berharap bisa menemukan sosok berbaju koko dan kopiah putih yang tadi menyapaku di serambi. Sekat pemisah jamaah yang tingginya hanya sedada memudahkanku menemukanmu. Kau di sana, satu shaf di belakang imam. Tak bisa kulihat wajah khusyukmu saat melakukan takbiratul ihram. Hanya punggungmu. Itu cukup. Bukankah selama ini hanya itu yang bisa kulakukan? Bukankah hanya itu yang selalu kulihat darimu? Tak lebih. Aku hanya bisa berdiri di belakangmu, menatap semua tingkahmu dan berharap – meskipun hanya secuil – kau melihatku.
Andai aku bisa shalat satu shaf dibelakangmu, menjadi makmummu. Menemanimu dalam setiap sujud menghadap Sang Pencipta, Yang Maha Memiliki Cinta. Andai aku tak hanya bisa melihat punggungmu saja. Menatap sebelah kiri tubuhmu saat kau menunaikan shalat. Memperhatikan matamu yang perlahan terpejam menghayati takbiratul ihram. Bibirmu yang terbuka, mengucap lirh “Allahu akbar.” Mendengar syahdu bacaan Al-Fatihah. Mengikuti setiap gerakanmu dan menjadi orang pertama yang kau lihat saat engkau mengucapkan salam. Andai saja.
“Assalamualaikum.”
“Assalamualaikum.”
Imam menyudahi shalat maghrib. Entah shalatku diterima atau tidak. Sepanjang 3 rakaat aku lebih banyak meng-imajinasikanmu. Aku tak bisa khusyu’. Aku berharap Tuhan memaafkanku kali ini.
Sayup terdengar imam berdoa “robbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrota ‘ayun, waja’alna lilmuttaqina imama. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penenang hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin dari orang-orang yang bertakwa.” Amin yang sangat tulus terucap lirih dari bibirku.
Mukenah sudah kulepas, berganti dengan jilbab biru-lautku, kukembalikan ke dalam tas mungil yang selalu kubawa saat shalat. Aku keluar dari ruangan ‘khusus jamaah putri’ dan kulihat kau berdiri di depan gerbang mushola, sepertinya menunggu seseorang. Dan lagi, hanya punggungmu yang bisa kuamati.
Seorang wanita berjilbab setengah berlari menghampirimu. Demi melihatnya, kau tersenyum. Senyum indah yang jarang kulihat. Senyum tulus yang tak pernah kau tunjukkan kepadaku. Aku tau wanita itu, dia yang shalat tepat di kiriku tadi. Kini dia berjalan berdampingan denganmu. Kulihat kau dan wanita itu saling bertatap muka, saling melemparkan canda, seakan dunia ini hanya milik kalian saja. Lalu aku ini apa? Aku ini siapa? Apakah seumur hidupku hanya bisa memandangi punggungmu saja?
Hujan turun dengan tiba-tiba. Deras sekali. Menutupi seluruh tangis yang jatuh saat kulihat punggung itu pergi.

Story by Dia Arnia Putri

0 komentar:

Posting Komentar

 
;