Kadang memang melarikan
diri adalah jalan paling mudah yang akan diambil seseorang, memang ini bukan
satu penyelesaian masalah, tapi setidaknya, semakin sedikit kontak mata dengan
semua yang bisa mengingatkan kita pada sesuatu itu, akan membuat proses melupakan
menjadi jauh lebih mudah.
Aku
sudah pergi ke beberapa tempat, nyobain satu demi satu, mencocokkan diri. Ya,
semua itu kulakkuan hanya demi satu sebab. Aku pengen melupakan sesuatu.
Mencoba menyamankan diri dari satu tempat ke tempat lain, dari satu profesi ke
profesi lain, ini bukan merupakan proses pencarian jati diri, aku sudah terlalu
tua buat itu semua, ini lebih untuk menyamankan diri mengisi satu lubang kosong
yang aku sendiri juga nggak tau harus diisi pake apa.
Ada
orang yang berhasil ngisi lubang itu dengan sesuatu yang sangat sederhana, ada
juga yang mengisinya dengan sesuatu yang benar – benar istimewa. Tapi bagi
dirinya, sesederhana apapun itu, tetaplah istimewa, itulah cinta. Itulah lubang
kosong yang kucoba isi selama ini, tapi tak pernah bisa pas. Dan sampai
sekarang masih kucari.
Aku
mencoba lari dari semua itu. Sekarang aku ada di pulau Bali, tempat terbaik
untuk melupakan sesuatu. Tapi kutukan itu masih aja melekat di otakku. Seakan
– akan aku harus hidup dengan semua ini tanpa bisa satu centi pun menghilangkan
dia yang saat ini menjelma menjadi otak kananku. Dia menjadi alasanku menulis, seolah dia adalah pegawai sortir naskah di sebuah penerbit bernama
imajinasi. Ide yang ada harus melalui persetujuannya dulu baru bisa terbit satu
cerita yang indah.
Dia
jugalah penyebabku selalu ngerasa gloomy pada tanggal – tanggal tertentu
bulan desember. Kutukan di mana aku harus nyeritain kisah kita berdua. Sampai
pada akhirnya “sang editor” menuntun untuk menuliskan kisah ini. Entahlah,
mungkin juga ini adalah salah satu cara buat ngeluarin dia dan segala
kutukannya yang sudah lama bersemayam di otak kananku.
Semua coretan dan
tulisan ini diakhiri oleh sebuah tanda tanya besar di atas kepalaku. Sebuah
tanda tanya bertuliskan “Apa aku bisa ngelewatin semua ini?” apa aku bisa
mengisi lubang yang sudah terlanjur menganga ini, dan semua yang udah ditinggal
berserakan di sini. Semakin jauh aku mikir, semakin semuanya tak bisa
terlupakan. Semakin dalam aku mikir, semakin dia mengejarku dan menghantui
hidupku. Entahlah
Waktu
adalah sahabat yang paling baik, tetapi juga merupakan musuh yang sangat
sempurna. Dia mampu menciptakan setiap momen, membuatknya kekal, tetapi, sekali
dia ingin menyiksa seseorang, dia juga akan berhenti berdetak. Dan semua
siksaan pun juga terasa seperti selamanya.
Aku
terbangun, anganku akanmu memenuhi otakku
Bagai
sebuah hologram, kau bersinar di pojok sebuah kamar
Kuraih,
tapi hanya cahaya yang menyambut tanganku
Senyum
teduhmu, seakan mengisyaratkan tak akan ada yang terjadi
Seakan
semua yang terjadi, terganti oleh sebuah kalimat
Tak
perlu kau risau, semua akan baik – baik saja
Kupalingkan
itu semua
Samar
Bayangan dibalik jendela
di sudut kamar,
Pun seakan hanya mewayangkan
kisah kita
Semua
memori berjalan pelan, bak dawai biola
Semakin
indah semakin menyayat hati yang luka
Anganku
penuh
Ingin
ku bunuh
Tapi
aku tak pernah mampu

0 komentar:
Posting Komentar