Selasa, 24 Juni 2014

Prolog Sebuah Epilog



            Kadang memang melarikan diri adalah jalan paling mudah yang akan diambil seseorang, memang ini bukan satu penyelesaian masalah, tapi setidaknya, semakin sedikit kontak mata dengan semua yang bisa mengingatkan kita pada sesuatu itu, akan membuat proses melupakan menjadi jauh lebih mudah.


            Aku sudah pergi ke beberapa tempat, nyobain satu demi satu, mencocokkan diri. Ya, semua itu kulakkuan hanya demi satu sebab. Aku pengen melupakan sesuatu. Mencoba menyamankan diri dari satu tempat ke tempat lain, dari satu profesi ke profesi lain, ini bukan merupakan proses pencarian jati diri, aku sudah terlalu tua buat itu semua, ini lebih untuk menyamankan diri mengisi satu lubang kosong yang aku sendiri juga nggak tau harus diisi pake apa.

            Ada orang yang berhasil ngisi lubang itu dengan sesuatu yang sangat sederhana, ada juga yang mengisinya dengan sesuatu yang benar – benar istimewa. Tapi bagi dirinya, sesederhana apapun itu, tetaplah istimewa, itulah cinta. Itulah lubang kosong yang kucoba isi selama ini, tapi tak pernah bisa pas. Dan sampai sekarang masih kucari.

            Aku mencoba lari dari semua itu. Sekarang aku ada di pulau Bali, tempat terbaik untuk melupakan sesuatu. Tapi kutukan itu masih aja melekat di otakku. Seakan – akan aku harus hidup dengan semua ini tanpa bisa satu centi pun menghilangkan dia yang saat ini menjelma menjadi otak kananku. Dia menjadi alasanku menulis, seolah dia adalah pegawai sortir naskah di sebuah penerbit bernama imajinasi. Ide yang ada harus melalui persetujuannya dulu baru bisa terbit satu cerita yang indah.

            Dia jugalah penyebabku selalu ngerasa gloomy pada tanggal – tanggal tertentu bulan desember. Kutukan di mana aku harus nyeritain kisah kita berdua. Sampai pada akhirnya “sang editor” menuntun untuk menuliskan kisah ini. Entahlah, mungkin juga ini adalah salah satu cara buat ngeluarin dia dan segala kutukannya yang sudah lama bersemayam di otak kananku.

Semua coretan dan tulisan ini diakhiri oleh sebuah tanda tanya besar di atas kepalaku. Sebuah tanda tanya bertuliskan “Apa aku bisa ngelewatin semua ini?” apa aku bisa mengisi lubang yang sudah terlanjur menganga ini, dan semua yang udah ditinggal berserakan di sini. Semakin jauh aku mikir, semakin semuanya tak bisa terlupakan. Semakin dalam aku mikir, semakin dia mengejarku dan menghantui hidupku. Entahlah

            Waktu adalah sahabat yang paling baik, tetapi juga merupakan musuh yang sangat sempurna. Dia mampu menciptakan setiap momen, membuatknya kekal, tetapi, sekali dia ingin menyiksa seseorang, dia juga akan berhenti berdetak. Dan semua siksaan pun juga terasa seperti selamanya.

            Aku terbangun, anganku akanmu memenuhi otakku
            Bagai sebuah hologram, kau bersinar di pojok sebuah kamar
            Kuraih, tapi hanya cahaya yang menyambut tanganku
            Senyum teduhmu, seakan mengisyaratkan tak akan ada yang terjadi
            Seakan semua yang terjadi, terganti oleh sebuah kalimat
            Tak perlu kau risau, semua akan baik – baik saja
            Kupalingkan itu semua

            Samar
Bayangan dibalik jendela di sudut kamar,
Pun seakan hanya mewayangkan kisah kita
            Semua memori berjalan pelan, bak dawai biola
            Semakin indah semakin menyayat hati yang luka
            Anganku penuh
            Ingin ku bunuh
            Tapi aku tak pernah mampu
             

0 komentar:

Posting Komentar

 
;