Sejak kejadian pelukan itu, dia jadi orang yang lebih
terbuka sama gue. Jadi sering kontak meski cuman sms nanyain udah makan, atau
nanyain udah ngerjain tugas apa belum. Yang jelas, jadi lebih perhatian, lah. Dan
mulai saat itu juga, gue resmi jadi… tukang ojeknya, yang nganterin pulang ke
rumahnya setelah kuliah. Berangkatnya tetep dianterin sama sopir, karena gue
mau jemput juga jauh, tapi saat pulangnya gue udah berjanji mau mengabdikan
diri jadi tukang ojeknya. Jarang pula gue lihat tatapan mata yang malam itu,
yang kini sering gue lihat adalah tatapan mata teduh, yang bisa gue sebut
“penuh cinta”
Tepat 3 minggu setelahnya, gue ngajakin dia buat keluar,
sekedar nongkrong di bundaran sambil ngemil maicih (hobi yang aneh). Malam yang
tenang, sepertinya lebih banyak hewan yang berkeliaran di malam itu
dibandingkan manusia. Kita berdua diam, hanya memandangi air mancur di samping
dan beberapa orang yang berlalu lalang mengelilingi kita. Angin sepoi menerpa
wajah cantiknya, gue bisa ngelihat sisi matanya, dan seperti dahulu, ada yang
pengen dia ungkapin. Dengan segenap keberanian, gue pandang mata sayu berwarna coklat
itu lekat – lekat dan berkata
“Udah
lama ya, sejak terakhir gue lihat tatapan mata yang kaya pas di belakang rumah”
“Ehh…”
“Bisa
aku minta something?”
“Minta
apaan? Kalo bisa kupenuhin sih boleh – boleh aja”
“Sejak lihat tatapan mata itu, aku pengen banget, pengen
bisa ngehapus luka di hatimu, pengen bisa ngasih free hug setiap saat kalo kamu
misalkan butuh, pengen ngasih sandaran saat kamu pengen nangis. Can I say that
I love you?”
“Boleh
aku nanya?”
“Apaan?”
“Am
I that special for you? Gimana kalo feeling kamu ternyata salah?”
Gue mikir, lumayan lama, buat ngasih jawaban yang pas,
karena bagi gue ini bukan pertanyaan yang main – main. Buat semua cowok, kalo lo
dapat pertanyaan kayak gini, jangan asal njeplak men jawabnya, pikirin dulu.
“Are you that special for me? I don’t think that you’re that
special. Nggak se spesial itu juga kok, tapi emang sih, jarang juga, ada cewek
yang bisa bikin gue rela buat jadi tukang ojeknya, cewek yang bisa buat gue diam
termenung lebih dari 20 menit saat ngelihat senyumnya pertama kali, dan
berharap si cewek tersenyum lagi, cewek yang bisa diajakin hujan – hujan
berduaan dan berpikiran sama kalau hujan itu adalah sepotong kedamaian. Kalau
soal feeling, gue nggak pernah mikir kalo feeling pasti selalu benar, mungkin
kadang emang salah, gue nggak tau. Kalau misalkan kamu sebut ini sebagai
perjudian, gue siap mempertaruhkan semuanya, meskipun mungkin nanti gue pulang
tanpa membawa apapun. Believe me, I’m ready for it, whatever my feeling takes
me”
“You know that I love you, right?” Dia berkata sambil
nunduk, ngelihatin maicihnya.
“Yes, I know, I love you too. I will give you my everything.
I will love you with everything I have. Gue pengen jadi alasanmu buat nangis,
ketawa, atau nggak bisa tidur gara – gara ngeliatin layar HP. Gue pengen kita
terus bergandengan dan kita jalan bareng sampai kaki gue patah dan nggak bisa
jalan lagi. Atau sampai waktu di mana malaikat maut nulis nama gue di buku
catatannya, tanda kalau gue harus ngucapin selamat tinggal. Everything has an
ending, dan gue pengen kalau ending dari kisah seorang Hanif adalah kamu. Lets
enjoy everything we have now, and every moments, together.”
Dia mendekat, nempelin kepalanya ke pundak gue dan meluk dari
samping, persis seperti pelukan yang pertama kali, hangat, dan tenang. Gue
nemuin kedamaian di sini, seperti pada saat gue berlarian sendiri di tengah
hujan, menengadah, dan membiarkan semua tetesan – tetesan air itu jatuh menerpa
muka gue. Seakan semua beban yang ada udah menguap digantikan dengan
kebahagiaan yang masuk ke tubuh lo dari setiap rintiknya yang menerpa kulit,
ngerasa nggak harus mikirin besok hanya saat ini aja. Saat dia meluk gue dengan
semua rasa yang dia punya yang biasa kita sebut cinta.
Dan bisa lo semua tebak, hari – hari gue yang awalnya
lumayan indah jadi super duper lebih lumayan indah. Karena senyumnya, karena
tatapan matanya, karena dia. That smile is mine and will always smile for me.
Catatan, satu lagi, abis kita resmi jadian, kebiasaan ngojek
gue nggak berubah, justru malah nambah. Selain gue harus nganterin pulang habis
ngampus, gue juga nganterin ke gereja di minggu pagi. Ini yang gue salut dari
dia. Dia adalah seorang katolik yang taat, rajin beribadah, dan selalu menjawab
pertanyaan – pertanyaan bloon gue soal agamanya. Dan dia menjawabnya dari sisi orang melihat agamanya,
bukan dari sisinya yang teguh terhadap apa yang dia imani. for that point, gue
percaya kalau perbedaan itu emang sengaja diciptakan. Dan Tuhan menciptakan semuanya
untuk membuatnya jadi lebih indah, bukan sebaliknya.
Dia adalah wanita yang sempurna, meskipun dia tau perbedaan
di antara kita, dia nggak pernah menyikapinya dengan sikap – sikap yang apatis.
Dia sering menjadi jam bekerku waktu sholat. Di rumahnya pun juga disiapin satu
kamar berukuran kecil, khusus buat tempat gue bersujud. Kita bagai dynamic duo
yang nggak bakal terpisahkan, kecuali Tuhan yang nyuruh.
Di
suatu waktu di depan gereja
“Nggak ikutan masuk, yang” dia berkata dengan santainya
“Nggak
ah, nanti yang di dalam marah, tau kalo ada penyusup. Salamin aja, kalo kamu
diboncengin mas pacar ke sininya tadi”
“Hahahaha.
Oke, I will”
“yang,
boleh nanya nggak?”
“Apa’an?”
Ini
adalah salah satu pertanyaan konyol yang gue sesali.
"Yang, kalo nih, kalo kan ya,
kalo misalkan kita nikah ntar, kamu mau nggak masuk islam, jadi muslim yang
taat, jadi seiman sama aku?"
Dengan pandangan super duper serius
"Yang, kamu beneran nanya itu? Tuhan aku aja yang dari
kecil kesembah, kuhianatin, kamu yakin kalo kamu nggak akan bernasib sama?
Gue diem.
Setelah beberapa minggu gue jadian, gue baru tau kalo ulang
tahunnya cuman 2 hari sebelum ultah gue, tanggal 26 desember. And that means a
month to go. Oke untuk kali ini gue panik mau milihin kado apaan, padahal masih
sebulan lagi. Tapi coba bayangin, kado apa yang pas buat cewek yang udah
terlanjur perfect. Kalo lo se panik dan se tulalit gue, pastinya satu bulan itu
bakalan berguna banget. Buat mikir. Dan di sini kesalahan gue.
Tanggal 24 desember siang, sebelum gue nganterin dia buat
misa malam natal, gue baru dikasih tau kalo dia paling nggak suka sama tanggal
lahirnya sendiri, gara – gara bertepatan dengan tsunami di aceh 2004 (aneh,
kan?). Jadi dia “ngelobi” orang rumah agar ngerayain ultahnya pas tanggal 25.
And guess what, GUE BELUM NYIAPIN KADO APAPUN. Padahal menurut rencana, gue mau
ngajakin dia dinner buat tanggal 26 itu, gue udah milihin tempat yang momennya
udah pas banget pokoknya. Tapi mau gimana lagi.
Jadi, pas sore setelah nganter dia ke gereja, gue mondar –
mandir mikir kado apa yang pas. Karena udah saking buntunya, akhirnya gue jalan
ke mall terdekat, masuk ke gramedia dan beli bukunya Lord of The Rings
sama To Kill a Mockingbird (kayanya gue
pengen banget dia jadi nerd). Sebelum pulang, gue mampir ke toko arloji khusus
cewek yang letaknya nggak jauh dari gramed. Di situlah petaka bermula. Gue
nggak tau jam yang menurut cewek kyut itu yang gimana. Setelah milih – milih,
nanyain ke pengunjung toko satu demi satu, sampai mukanya si mbak yang jaga
counter udah jutek banget serasa pengen makan gue, akhirnya pilihan jatuh ke
jam mungil berpadu warna coklat dan chrome yang ada gambar Mickey dan Minnie
mouse di angka 3 dan 9. Berasa kado yang gue pilih udah lumayan, maka gue
putusin buat nitipin kado di kosan temen gue, dan langsung balik ke gereja.
Dia berdiri di depan sana, dengan rok hitam panjang dan
atasan kemeja putih, tanpa make up yang tebal. Sepertinya nggak gue doang yang
tau kalau mahluk di depan gue ini cantik. Tuhan pun tau.
“Kamu
lama banget, abis dari mana aja?”
“Ehh…
Anu… gue tadi abis ngopi deket situ sih, ternyata si biru bensinnya abis, nyari
pom deh akhirnya”
“Capek ya? Pulang yuk, makan, laper”
“yuk. Naik”
Suasana malam natal di rumah Diva sedikit berbeda
dibandingkan dengan hari biasa. Di atas meja kecil di pojok ruang tamu, yang
biasanya terjajar beberapa hiasan meja, foto, dan beberapa trofi kini nggak
ada. Hanya sebuah pohon cemara kecil, dengan beberapa hiasan pohon yang juga
berukuran kecil. Simple but elegant. Di sampingnya ada 3 kotak yang dibungkus
kertas kado warna – warni, bertuliskan Mama, Papa, dan Diva.
Karena seisi rumah pada pulang kampung, dan pembantu juga
lagi nggak ada, akhirnya nggak ada yang tinggal di rumah buat masak. Sebelum
dia ngangkat telpon buat pesan ke delivery order, gue genggam lengannya sambil
menggelengkan kepala, memberi isyarat kalo lebih baik kita masak sendiri aja.
Gue ke dapur, cari bahan baku apa yang kira – kira bisa dimasak simpel, nggak
ruwet – ruwet banget tapi hasilnya lumayan berkelas. Di kulkas ada pasta, udang
dan jamur. Gue nyengir…
Setelah lebih dari 30 menit berkutat dengan bumbu – bumbu
dan bahan baku tadi, akhirnya selesai juga masakan gue. For your information,
gue masak sendiri (padahal di otak udah ngebayangin romantisnya masak berdua),
sedangkan Diva nggak tau kemana, dia bilang mau ke kamar buat ganti baju, tapi
sehabis masak pun dia nggak juga kelihatan. Nanyain rasa kek, nyeletuk udah
kelar apa belum karena dia udah lapar banget. Nggak!
Keringat di dahi udah mulai kering, udah nggak banyak banget
seperti saat tadi pas lagi PDKT sama kompor. Gue cari dia di kamarnya, nggak ada, di ruang tamu, juga
nggak ketemu, pas mau ke belakang, ternyata dia ada di sana. Di gazebo, sedang
duduk natain meja dan lilin, nggak nyadarin kehadiran gue. Gue senyum, lalu
balik lagi ke dapur buat ngambil pasta udang jamur dan berjalan ke arah gazebo.
Bergaya seorang waitress, dan meletakkan pasta di atas meja, lalu segera duduk
di depannya. Dia senyum lagi.
And guess what, makan malam kali itu (menurut gue) jauh
lebih romantis dari pada tempat makan malam yang gue rencanain di awal. Di sini
gue kalut, antara laper dan pengen tetep kelihatan anggun di depan dia. Emang
bener, makan jadi nggak begitu tenang kalo di depan lo ada cewek cakep lagi
mandangin penuh cinta dan ngasih senyum seakan – akan di hatinya bilang “jangan
banyak – banyak ya sayang, nanti kamu gendut”. Sumpah, itu disaster.
Itu adalah malam paling romantis yang pernah ada, cukup aku,
kamu, dan malam sepi ini yang menemani kita. Dan sebuah ide gila pun terlintas
di kepala Diva, dia ngasih senyum penuh misteri, tanda mau ada kejutan lain.
Dia berjalan penuh semangat ke dalam rumah, ngambil sebuah mini compo dan
memilih satu CD diantara tumpukan CD klasik yang ada di lemari tengah. Semuanya
berisikan musik instrumental, mulai dari Mozart, Bethoven, sampai Kenny G. Dia
ngambil satu dan berjalan ke belakang. Mini compo diletakkan di pojok gazebo
dekatku, dan mengatur supaya hanya memutar satu lagu. Malam ini kita tak
sendirian lagi, kita ditemani oleh Johan Pachelbel yang dipaksa tunduk
dihadapan penguasa berbentuk tombol “repeat” canon versi piano bernyanyi
syahdu, pelan, tapi seakan mengajak kita untuk terus mendengarkannya.
Dia indah, lagu ini indah, malam ini indah, tak ada satu
katapun yang mampu ngungkapin sepenuhnya apa yang gue rasain malam itu. Gue masih
termenung memandangi piringan CD yang terus berputar dan dia yang melangkah
perlahan menjauhi kami. Tepat di tengah dua gazebo dia mulai bergerak pelan,
anggun. Dia menari. Tangannya menengadah, memberi isyarat untuk mengajak ke
sana. Mata gue beralih antara dia dan piringan CD itu, gue bingung. Dia
mendekat, nggandeng tangan gue, dan ngajakin ke tempat dia tadi berada.
“Gue nggak bisa berdansa”
“Dansa bukan soal bisa atau nggak, follow your heart, and you
will move fluently, like a water flows”
Itu pertama kalinya gue berdansa, sepertinya memang gue
bukan penari yang buruk. Atau setidaknya, gue nggak pernah nginjak kaki dia
malam itu. Kita melakukkannya sampai pagi pun menggantikan malam. Dan kita akan
melakukannya sampai nanti kaki kita sudah tak kuat untuk berdiri lagi, sampai kita sudah tak punya tenaga untuk
melakukan hal lain lagi, atau sampai di mana waktu akhirnya berhenti dan
mengalah kepada kita, saat kita semua menyebutnya dengan keabadian.
Pagi natal, adakah yang lebih baik dari secangkir kopi panas
dan senyumannya. Santa sudah membawakan kado terindah buat gue, tapi menurut
dia, itu semua masih kurang. Dengan langkah lambat, gue berjalan ke ruang tamu,
dan menyadari bahwa di samping cemara kecil ternyata terdapat kado ke-empat,
bertuliskan “Hanif sayang”.
Dia keluar lagi dari kamarnya, mengenakan setelan sama
seperti saat berangkat ke gereja semalam, rok panjang hitam, kemeja putih,
bible di tangan kanannya dan senyum indah yang selalu menghiasi wajahnya itu
berkembang bagai sang bulan di hari – hari awal penanggalan bulan. dia
tersenyum dan bilang
“Anterin ya, sayang”
Gue senyum, tanda setuju.
Setelah sampai di gereja, gue mampir ke kosan temen buat
ngambil kado yang udah gue titipin kemain dan langsung balik ke rumahnya,
meletakkan kadonya di samping pohon cemara itu. Gue pandangi pohon itu seakan –
akan dia benar – benar tau dan merekam semua kejadian semalam, seakan kami
benar – benar menikmatinya dan hendak melupakannya walau cuman semalam. Gue
senyum, cemara itu juga, tapi sepertinya nggak, gue balik jemput dia.
Sepulang dari gereja, dia menyadari kalau kotak kado kecil
yang semula ada 4, kini bertambah banyak. Nggak ada pertanyaan yang keluar dari
mulutnya, dan segera menghampiri pohon itu. Dia berbalik arah, tersenyum.
“Terima kasih ya. Sepertinya kamu nggak perlu ngasih kado
lagi deh. Semua kado kamu udah aku nikmatin semalam.”
Dia berbalik lagi, menghadap pohon cemara, menempelkan kedua
tangan ke hidung dan berkata dengan lirih
“Tuhan, terima kasih untuk semua yang telah Engkau berikan
sampai hari ini. I feel blessed as Your servant. Engkau udah ngasih kado
terindah untuk ulang tahunku, Tuhan. Its him.”
Gue mengikutinya di belakang, khusyuk mendengarkan dia
berdo’a. dengan lirih juga gue berucap
“Amiin”
Kado hari itu sebenernya nggak begitu penting, karena gue juga
udah dapat semuannya. Orang yang gue sayangin, berbahagia di samping gue,
bahagia bareng gue. Itu lebih dari semua kado ulang tahun yang pernah gue
bayangin selama ini. Kotak kado itu berisi bola, bulat, dan sepertinya bening,
di dalamnya kerucut hijau, itu adalah sebuah pohon cemara, di depannya ada daun
mistletoe dan bila di balik, akan ada kristal saju putih yang seakan turun, dan
membasahi pohon itu.
Kita berdua diam seterusnya. Dia lagi nyobain arloji itu dan
mandangin gue. Dia mendekat, gue kecup keningnya. Nggak ada kata yang keluar.
Semua kata yang ada sirna oleh sebuah rasa. Semua kediaman saat itu sudah cukup
untuk mengilustrasikan moment yang ada. Tak perlu harus dibumbui oleh kata –
kata. Cinta itu diam, dan dia bermuara. Di dalam wujud cantik seorang bernama
Diva Amelia Maharani. Dan cinta selalu bisa mengungkapkan bahasanya sendiri,
bahasa yang dibuat oleh manusia hanya berfungsi melengkapinya.

3 komentar:
la diva ndi ki? aku penasaran... :3
gila... nyentuh bgt ceritanya... say suka saya suka :)
tungguin part 3 keluar yah :3
Posting Komentar