Dia ada di tempat yang jauh, yang tak
mungkin bisa dijangkau oleh siapapun. Dia hidup di sana dan kekal. Dia berada
di masa lalu. Tapi kepingnya menempel erat di sudut mataku, di nadiku, dan
bersemayam di sisi jantungku. Dialah ambang batas antara semua realita dan
bayangan – bayangan dalam hidupku selama ini.
Sejak kejadian pelukan itu, dia jadi orang yang lebih
terbuka sama gue. Jadi sering kontak meski cuman sms nanyain udah makan, atau
nanyain udah ngerjain tugas apa belum. Yang jelas, jadi lebih perhatian, lah. Dan
mulai saat itu juga, gue resmi jadi… tukang ojeknya, yang nganterin pulang ke
rumahnya setelah kuliah. Berangkatnya tetep dianterin sama sopir, karena gue
mau jemput juga jauh, tapi saat pulangnya gue udah berjanji mau mengabdikan
diri jadi tukang ojeknya. Jarang pula gue lihat tatapan mata yang malam itu,
yang kini sering gue lihat adalah tatapan mata teduh, yang bisa gue sebut
“penuh cinta”
Cinta itu sederhana, mengalir tanpa kata, berirama tanpa nada, sesederhana embun yang mencintai daun yang selalu memeluknya tiap pagi, sesederhana awan, yang mencintai air, dan membuatnya hujan, atau mungkin sesederhana daun kering yang mencintai angin, yang membuatnya jatuh dan kembali ke asalnya. semuanya, tak terucap, hanya berisyarat, hanya mencintai, tak ada kata yang lain.
mungkin, kitalah manusia, yang membatasi pergerakan cinta, kita membatasi dengan norma, agama, teman, malu, sungkan, mantan, atau mungkin dari perkataan orang yang baru saja anda temui, dan anda begitu mempercayainya. kita tak membiarkan cinta mencintai kita dengan kebebasannya. Buat anda yang percaya kalau cinta itu sederhana, silakan baca tulisan sederhana ini
mungkin, kitalah manusia, yang membatasi pergerakan cinta, kita membatasi dengan norma, agama, teman, malu, sungkan, mantan, atau mungkin dari perkataan orang yang baru saja anda temui, dan anda begitu mempercayainya. kita tak membiarkan cinta mencintai kita dengan kebebasannya. Buat anda yang percaya kalau cinta itu sederhana, silakan baca tulisan sederhana ini
Mataku selalu beralih, antara jam tangan, buku yang sedang ku baca dan
sebuah handphone mungil yang kubeli tahun lalu, hari ini tepat satu
tahun setelah aku mengakhiri ceritaku, dengan dia. Tak pernah kusangka
setelah 12 bulan, akhirnya kami dipertemukan kembali, memang sih bukan
dengan status yang sama, tapi, semua memori tentangmu tak pernah bisa
menguap dari kepalaku.
Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
Langganan:
Postingan (Atom)

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact