Sabtu, 26 Juli 2014 0 komentar

Sebuah Cerpen - Jangan Tunggu Aku Pulang




Jam dinding besar di tengah ruangan menunjukkan pukul 13.00, sepertinya sudah 45 menit dia menunggu di sini. Tak banyak orang di dalam, hanya dia, dua orang ibu yang sedang ngerumpi menggosipkan artis favorit mereka sambil menjagai anaknya masing – masing yang dari tadi berlarian dari ujung ke ujung. Beberapa bapak – bapak berusia mendekati senja sedang duduk mengobrol tentang politik warung kopi, yang sepertinya memang kerja di sini, terlihat dari baju yang mereka kenakan, seragam berwarna biru muda.

            Terlihat beberapa kali lampu sorot terlihat di ujung kiri dan kanan, tak satupun yang menarik perhatiannya. Karena bukan itu yang dia tunggu. Sepertinya memang terlambat, tapi terlambat 45 menit sudah merupakan hal yang biasa untuk kereta yang menuju ke sini, mungkin memang karena jauh dari pusat kota. Lamunannya akan masa lalu terpecah, kala sang petugas penyiaran stasiun memberitahukan bahwa kereta yang dia nanti segera datang di jalur satu.

Selasa, 01 Juli 2014 0 komentar

My Love Story Part 3



            Dia ada di tempat yang jauh, yang tak mungkin bisa dijangkau oleh siapapun. Dia hidup di sana dan kekal. Dia berada di masa lalu. Tapi kepingnya menempel erat di sudut mataku, di nadiku, dan bersemayam di sisi jantungku. Dialah ambang batas antara semua realita dan bayangan – bayangan dalam hidupku selama ini.

Selasa, 24 Juni 2014 0 komentar

Prolog Sebuah Epilog



            Kadang memang melarikan diri adalah jalan paling mudah yang akan diambil seseorang, memang ini bukan satu penyelesaian masalah, tapi setidaknya, semakin sedikit kontak mata dengan semua yang bisa mengingatkan kita pada sesuatu itu, akan membuat proses melupakan menjadi jauh lebih mudah.

Rabu, 04 Juni 2014 3 komentar

My Love Story Part 2


Sejak kejadian pelukan itu, dia jadi orang yang lebih terbuka sama gue. Jadi sering kontak meski cuman sms nanyain udah makan, atau nanyain udah ngerjain tugas apa belum. Yang jelas, jadi lebih perhatian, lah. Dan mulai saat itu juga, gue resmi jadi… tukang ojeknya, yang nganterin pulang ke rumahnya setelah kuliah. Berangkatnya tetep dianterin sama sopir, karena gue mau jemput juga jauh, tapi saat pulangnya gue udah berjanji mau mengabdikan diri jadi tukang ojeknya. Jarang pula gue lihat tatapan mata yang malam itu, yang kini sering gue lihat adalah tatapan mata teduh, yang bisa gue sebut “penuh cinta”
Rabu, 28 Mei 2014 0 komentar

My Love Story Part 1


Ada banyak yang request kalo gue harus nyeritain selain masa SMA. Well, its kind a sad story actually, but I know that I have to tell this story. Oke, kita bakal setting di saat gue kuliah di ITS, dan ngekos di deketnya asrama haji Surabaya. 

Selasa, 20 Mei 2014 2 komentar

Cinta Itu... Sederhana

Cinta itu sederhana, mengalir tanpa kata, berirama tanpa nada, sesederhana embun yang mencintai daun yang selalu memeluknya tiap pagi, sesederhana awan, yang mencintai air, dan membuatnya hujan, atau mungkin sesederhana daun kering yang mencintai angin, yang membuatnya jatuh dan kembali ke asalnya. semuanya, tak terucap, hanya berisyarat, hanya mencintai, tak ada kata yang lain.

mungkin, kitalah manusia, yang membatasi pergerakan cinta, kita membatasi dengan norma, agama, teman, malu, sungkan, mantan, atau mungkin dari perkataan orang yang baru saja anda temui, dan anda begitu mempercayainya. kita tak membiarkan cinta mencintai kita dengan kebebasannya. Buat anda yang percaya kalau cinta itu sederhana, silakan baca tulisan sederhana ini

Minggu, 21 Juli 2013 0 komentar

Sebuah Cerpen - Kamu

Mataku selalu beralih, antara jam tangan, buku yang sedang ku baca dan sebuah handphone mungil yang kubeli tahun lalu, hari ini tepat satu tahun setelah aku mengakhiri ceritaku, dengan dia. Tak pernah kusangka setelah 12 bulan, akhirnya kami dipertemukan kembali, memang sih bukan dengan status yang sama, tapi, semua memori tentangmu tak pernah bisa menguap dari kepalaku.

Kurasa sudah satu jam aku menunggu kedatangan keretamu, aku hanya ingin melihatmu, bagaimana keadaanmu, apa kau masih jadi orang yang sama seperti dulu, yang selalu membelai rambutku dan membuatku selalu meresapi hangat belaian tanganmu yg meneduhkan itu, atau kau sekarang sudah menjadi pria yg lebih matang, lebih dewasa, yg lebih bisa mengontrol sifat egoismu. Entahlah. Semua angan2 tentangmu berlari2 di kepalaku sampai aku tak konsen dengan buku yang kubaca ini
 
;